Delusi PKI, Rekonsiliasi dan Masalah Kesejahteraan Ekonomi

bubarkan-pki

Beberapa waktu yang lalu, salah satu acara di Televisi Berita yang terkenal mengambil tema yang sedikit mengorek luka lama kita, yaitu kejadian 1965. Perlu kita akui bersama, sejarah Persitiwa Pemberontakan 1965 tersebut merupakan sejarah paling kelam di Republik ini, baik dari jumlah korban maupun kejelasan sejarahnya.

Partai yang terlibat serta terbesar saat itu, Partai Komunis Indonesia (PKI), sudah lama dibubarkan, melalui TAP MPRS No. XXV/MPRS/1966. Namun, meski PKI telah mati, Bangsa ini masih merasakan ketakutan, dendam kesumat dan trauma mendalam terhadap PKI. PKI seakan antara nyata dan maya. Trauma yang berakumulasi dalam lintasan sejarah sampai kini, telah mengkristal menjadi delusi. Bangsa ini mengalami delusi. Baca lebih lanjut

Iklan

Politik Hukum Adat dan Masalah Agraria di Indonesia (4-habis)

99sengketalahan1

Permasalahan domeinverklaring ini mulai menguat terutama pada masa-masa Politik Etis di tahun-tahun 1900 hingga masa depresi pada tahun 1930. Dalam catatan saya dari karya Moch. Tauchid, perdebatan ini menguat seiring dengan terangkatnya isu-isu hak adat dengan pengembangannya dalam teori-teori hukum adat di Hindia Belanda. Pengembangan hukum adat itu dicetuskan oleh Snouck Hurgronje pasca-penelitiannya di Aceh dengan teorinya, Teori Resepsi, dan dikembangkan lebih lanjut oleh muridnya, Van Vollenhoven dan Bertrand Ter Haar. Baca lebih lanjut

Politik Hukum Adat dan Masalah Agraria di Indonesia (3)

konflik-tanah-ptpn-ii

Hukum Adat dan Miskonsespi Agraria di Indonesia

            Tibanya orang-orang Eropa (khususnya Belanda, Inggris, Spanyol dan Portugis) ke Nusantara pada dasarnya adalah untuk tujuan perdagangan. Berkembangnya peradaban Eropa menjadi latar belakang bagi kemajuan perdagangan Eropa yang hendak mencari komoditas-komoditas yang layak untuk diperdagangkan di daerah asalnya, khususnya benda yang mereka cari: rempah-rempah. Tujuan pelaut Eropa tidak hanya berdagang tetapi memiliki misi politik-ekonomi merkantilisme masing-masing negara di mana di Eropa, saat itu, mengalami persaingan perdagangan yang signifikan, khususnya empat negara yang telah disebutkan pada awal bagian ini. Tak ayal, masalah perdagangan membawa identitas kejayaan negaranya masing-masing. Siapa yang merajai perdagangan, dialah yang memimpin dan berkuasa. Baca lebih lanjut

Politik Hukum Adat dan Masalah Agraria di Indonesia (2)

prof-cornelis-van-vollenhoven

C. Van Vollenhoven

Penggolongan Hukum dan Rekayasa Sosial-Ekonomi

Teori Boeke yang dalam dualisme ekonominya, meskipun tampak bertentangan, namun sebenarnya masih dalam kesatuan padu yang memelihara status quo sosial ekonomi di Indonesia pra-kemerdekaan. Baik feodalisme dari tatanan politik pribumi maupun kapitalisme merkantilistik (hingga kapitalisme liberalistik berbasis persaingan swasta) telah membentuk tatanan ekonomi yang serba menindas, terutama terhadap masyarakat petani kelas bawah. Utamanya bagi petani kelas bawah, tanah merupakan aset bagi raja sebagai basis politik paling vital dalam memelihara kekuasaan. Robison dalam bukunya, menyampaikan pada nada yang agak kontradiktif bahwa kekuasaan paling penting bagi raja-raja adalah penguasaan terhadap tenaga kerja dibanding tanah. Hal ini disebabkan rasio populasi yang sedikit dibanding tanah sehingga kepemilikan akan tenaga kerja dan penguasaan terhadap populasi begitu penting. Tanah tanpa adanya tenaga kerja menjadi sesuatu yang tidak penting. Baca lebih lanjut

Politik Hukum Adat dan Masalah Agraria di Indonesia (1)

farmer-opinion

Berbicara mengenai masalah agraria maka kita membicarakan ruang kehidupan makhluk hidup yang berdimensi tiga, yaitu tanah, laut, dan udara. Namun dalam konteks hukum agraria secara sempit (dalam permasalahan hukum administrasi), maka agraria selalu berbicara tentang tanah, daratan, atau yang bersifat dua dimensi (panjang dan lebar). Hal ini tentunya mengabaikan aspek-aspek agraria lain secara luas seperti dimensi ketinggian dan kedalaman, juga laut dan udara. Baca lebih lanjut

Kesejahteraan Petani dan Kedaulatan Pangan Indonesia (Strategi Pemerintah Dalam Mengentaskan Kemiskinan Petani di Perdesaan)

0krebszo7e

Permasalahan Umum Pangan Nasional

Apabila kita semua membicarakan pangan, maka permasalahan itu berkaitan langsung terhadap kebutuhan dasar makhluk hidup. Tentu, pangan merupakan sumber energi dan gizi bagi manusia demi kelangsungan­ hidup dan perkembangan fisiknya. Akan tetapi, bagaimana bila pertanian pangan itu sendiri menjadi masalah bagi negeri kita tercinta?

Baca lebih lanjut

Memetakan Pemikiran Hukum dan Ekonomi dalam Konteks Eropa dan Inggris (4-habis)

school-of-athens-detail-from-right-hand-side-showing-diogenes-on-the-steps-and-euclid-1511-1024x682

Alam Pemikiran Barat: Catatan dan Kelemahannya

Telah dijelaskan pada bagian awal, pemikiran yang berkembang di Barat (dalam konteks awal di Eropa) terdiri dari dua aliran pemikiran: Rasionalisme dan Empirisme. Rasionalisme awal berkembang pada pemikiran idealisme yang menekankan pada permasalahan ide dan pemikiran abstrak, yang dikembangkan oleh Plato. Berbeda dengan empirisme yang pertama kali dicetuskan oleh Aristoteles yang menekankan pada kebenaran berdasarkan kenyataan inderawi. Meski begitu, justru Aristoteles mengembangkan metode logika formal yang kelak dikembangkan lebih jauh dalam estafet peradaban Islam terutama di masa Abbasiyah dan Umayyah II dan pemikiran Barat pasca-Renaisans.

Baca lebih lanjut