Fondasi Yang Terlupakan

1 Juni,bukan sebuah tanggal biasa. Bukan nomor togel maupun angka keberuntungan. Bukan hanya sekedar tanggal yang bisa dilupakan begitu saja. Inilah dimana dasar Negara kita dirumuskan oleh Soekarno dan kawan-kawan dalam BPUPKI. Dengan segala keringat mereka,dari siang hingga malam mereka berlelah-lelah tidak tidur maupun meninggalkan keluarga mereka demi sebuah pencapaian yang dirasa mereka harus didapat sebelum mencapai kemerdekaan : Sebuah dasar Negara yang mendasar dan mengarahkan cita-cita bangsa.

Terumus kalimat-kalimat sakti yang mewakili cita-cita dan dasar sebuah Negara yang berdaulat yang akhirnya mengubah bangsa ini untuk selamanya. 5 kalimat yang akhirnya membuat negeri ini menjadi lebih berbudi dan lebih terarah. 5 aturan,dasar Negara dan cita-cita bangsa : Pancasila. Sebuah kata yang diambil dari bahasa india yang memiliki arti 5 dasar yang mewakili sebuah cita-cita Negara yang berefleksi dari masa lalu yang sangat tragis menuju masa depan yang cerah dan mengubah nasib kaum dan bangsanya.

‘Fondasi’ ini meliputi Negara yang berdasar ketuhanan yang maha esa yang berarti menentang secular dalam sistem pemerintahan. Kemanusiaan yang adil dan beradab,memuat tentang dasar HAM dan keadilan bagi semua warga Negara Indonesia yang berdaulat. Persatuan Indonesia,mengakui bahwa negeri ini adalah Negara yang bersifat social dan menjunjung tinggi gotong royong dan persahabatan antar etnis,agama,ras,dan suku. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan,mencerminkan dalam struktur pemerintahan yng harus mencerminkan pada nasib rakyat,selaras dengan cita-cita rakyat dan semua harus mengambil keputusan yang sangat bijaksana pada setiap orang meski itu mendapat perbedaan. Keadilan social bagi seluruh rakyat Indonesia,mencerminkan bahwa negeri kita berdasarkan keadilan bagi seluruh rakyatnya,menjunjung tinggi hukum serta memberikan keadilan bagi rakyatnya yang membutuhkan.

Dari penjelasan diatas sudah tentu dasar Negara telah terumus dengan ‘sangat sempurna’. Termuat tentang Negara yang agamis,menjunjung tinggi HAM,menghargai nilai Plural dan kemajemukan dalam masyarakat Indonesia,Demokrasi yang utuh dan menjunjung tinggi Hukum yang bercermin dari kehendak rakyat.

Jatuh bangun pancasila sebagai dasar Negara,dimulai dari ‘7 kata’ dalam sila pertama pancasila yang controversial,hingga perdebatan sengit di di parlemen Konstituante di zaman Demokrasi Liberal di era 50-an. Namun yang sangat diperdebatkan adalah sila pertama. Banyak dari kalangan islam untuk tetap berdasarkan piagam Jakarta yang berdasar syariat islam yang di ridhai Allah. Namun para nasionalis berpendapat itu sama saja sebagai pendirian Negara islam,mengabaikan kemajemukan dan nilai plurak dalam Negara Indonesia. Meski tetap menentang,akhirnya hingga saat ini,tetap sila pertama berdasar ketuhanan yang maha esa,tidak memperdebatkan tentang perbedaan. Yang penting dalam negeri ini adalah persamaan dalam satu visi,menjadikan Indonesia sebagai rumah yang indah bagi rakyatnya.

Namun,agaknya pancasila kini sudah banyak dilupakan banyak rakyatnya sebagai dasar Negara kita.  Entah karena factor dari luar yang banya berdatangan sehingga banyak cita-cita bangsa yang banyak dilupakan atau mungkin karena rasa dendam mereka di masa lalu.

Dendam masa lalu. Ya,di saat penguasa menjadikan pancasila sebagai tameng berlindung dan penjaga panjang umur dari sebuah kekuasaan dan rezim yang busuk maupun penuh dengan borok dan daki korupsi,kolusi,nepotisme,fitnah,kekerasan dan penghancuran martabat rakyat baik secara individu,agama dan ras. Etnis tionghoa adalah contoh dari penyalahgunaan pancasila dalam kekuasaan. Mereka di anggap sebagai duri dalam daging pasca hancurnya PKI. Etnis tersebut dianggap berbau komunis yang selalu di stigmakan sebagai pembunuh dan siap menghancurkan Indonesia dan pancasila dengan komunisnya. Sebuah hal yang dianggap sebagai pelanggaran HAM karena fitnah tersebut. Akibat dari semua itu banyak cemooh dan juga perendahan derajat mereka dalam masyarakat Indonesia saat itu. Bahkan terusir dari kampong halaman mereka dengan KTP para anggota etnis tersebut yang tercap WNA bukan WNI. Sebuah pengusiran secara halus namun sangat menyesakkan hati mereka di hati yang paling dalam.

Tak hanya itu,menurut pendapat saya,perlakuan ‘istimewa’ di kala orba sama dengan gaya Komunis stalin yang seenaknya serta sewenang-wenang menanamkan untuk semua organisasi untuk mendasarkan tujuan mereka yang selaras dengan pancasila. Ini adalah sebuah penyempitan makna yang sangat signifikan sekaligus sekaligus sangat tragis di Negara kita yang kita cintai ini. Bisa kita lihat dari penggembosan organisasi keagamaan yang harus berdasarkan pancasila. Sudah kita lihat di sila pertama bahwa kita berhak mendirikan organisasi dengan dasar keagamaan serta juga mencakup semua sila yang terkandung dalam pancasila. Namun seakan dengan angan penguasa yang terlalu berlebihan,sehingga banyak organisasi yang dicap sebagai anti pancasila dan membahayakan Negara,itu sudah cukup sebagai sebuah penyempitan makna,sekaligus kesalahan yang sangat besar dengan menjadikan pancasila sebagai ‘Dasar ketakutan trauma rakyat’.

Akhirnya,apa yang terjadi sekarang ?? sudah tentu cara pandang masyarakat Indonesia terhadap pancasila semakin sempit dan menyempit. P4 yang ditujukan untuk menghayati pancasila itu sama saja sebagai ampas kotoran yang gampang membusuk. Praktik komunis yang bagus sekali dari penguasa borok dari hati tersebut. Berdasarkan pengambilan data kepada para pelajar dari SD hingga SMA,pancasila dinilai sebagai dasar Negara yang sudah tak relevan lagi dalam kehidupan bangsa. Bayangkan,ini sama saja melukai hati para pahlawan yang telah lama memperjuangkan fisik,jiwa dan raga mereka. Susah payah dengan keringat dan usaha mereka merumuskan pancasila di kemudian hari malah tidak dihargai sama sekali. Sebuah hal yang menyesakkan dan memedihkan hati mereka semua di alam sana. Mungkin bila mereka masih hidup,mereka akan menangis menjerit karena perjuangan mereka yang seakan tak dihargai sebagai hasil perjuangan mereka di masa lalu.

Sudah seharusnya,dimomen hari jadi pancasila ini,rakyat kembali merefleksikan kembali arti sebuah pancasila dan memahami apa hakekat dari pancasila tersebut. Pancasila bukanlah rumus buntut yang selalu dipertaruhkan di meja judi,seakan mereka bisa diambil dan diberi seenaknya begitu saja. Pancasila memang tak sesakral Kitab suci agama-agama lain. Tapi sudah seharusnya,mari kita renungkan dasar Negara kita yang sebenarnya sudah sempurna ini,meski rumusan manusia sudah tentu tak ada yang sempurna. Semoga dengan hari jadi pancasila kita kembali mengingat pancasila,andaikan Negara ini adalah sebuah rumah,mungkin pancasila ada fondasinya. Namun kini seakan fondasi tersebut seenaknya diinjak,di remehkan,dan seakan di lupakan oleh para penghuninya,yaitu para rakyatnya…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s