Autisme : Sebuah Derita atau Anugerah ??

kita pasti sudah tak asing dengan kata ‘autisme’. tapi di sekitar kita,baik dalam pergaulan maupun kehidupan sehari-hari,kata ‘autis’ menjadi sebuah ejekan bagi orang yang bodoh,lambat,tak bermutu,bahkan disangka cacat mental. sungguh miris di tengah masyarakat kita ada segelintir teman-teman kita yang menderita autis.

saya mengakui adik saya adalah penderita autis. banyak di lingkungan rumah saya bahkan keluarga besar saya,adik yang saya cintai ini begitu dikucilkan dari pergaulan. di sekolah pun mereka sangat dikucilkan. mereka dijadikan buah bibir serta tontonan yang seolah seperti badut sirkus. miris dan sedih saya sebagai kakak dengan adiknya yang seperti itu.

apa itu autisme dalam pengertian ilmiah ?? dalam bahasa yunani Autis adalah ‘menyendiri’,mempunyai dunianya sendiri,meski si penderita berada di keramaian,si penderita takkan menghiraukan orang di sekitarnya,karena dia ‘memiliki dunianya sendiri’. sebuah gejala awal dari penderita ini adalah tidak bisa berhubungan dengan orang disekitarnya. dia berpikir bahwa dunianya terpusat pada dirinya,dan seolah hanya dirinya yang ada di dunia ini.

dari sinilah orang tua banyak yang mendidik mereka secara frontal baik secara langsung dengan menjauhi anaknya dari masyarakat dan dipaksa untuk bergaul dengan orang lain. ini adalah hal yang sangat keliru dalam mendidik anak autis. sebuah ajakan halus dan sedikit mempengaruhi psikis mungkin dijadikan pendidikan yang sangat manjur ditambah pula dengan kesabaran yang tinggi dalam hal ini.

para ahli biologi dalam hal penelitian otak maupun psikologi masih mencari apa penyebab yang menjadikan seorang anak bisa menjadi autis. namun menurut perspektif dari pemikiran saya,ada 2 hal penyebab autis,pertama adalah dari lingkungan dan yang kedua adalah genetika. namun ada juga dari sejak lahir akibat pengaruh kimiawi disaat masa kehamilan,si ibu sengaja tidak sengaja termasuk zat kimia kedalam tubuh sehingga merusak dari perkembangan otak bayi didalam kandungan.

menurut penelitian yang ada,anak autis yang menikah dengan perempuan atau laki2 yang normal,kemungkinan 1-20 kali bisa melahirkan bayi yang menderita autis.

mungkin ini juga yang menjadi momok di dalam masyarakat kita. autisme dicap sebagai kutukan dan anak yang tak bisa diandalkan. bisa dilihat bahwa anak autis memiliki komunikasi yang minim,bahasa komunikasi mereka di bawah standar orang-orang kebanyakan. menjadikan mereka ‘didakwa’ sebagai anak yang tak berguna.

keliru bila anda mendakwa anak autis sebagai anak yang sangat kurang baik dalam fisik serta mental.

Sejarah telah mencatat tinta emas bagi seorang penderita autis. Tokoh seperti Isaac Newton,dan Albert Einstein. sebagian orang selalu mencemooh anak autis sebagai orang yang tak bisa apa-apa,tapi inilah sebuah realita,tapi tidak tentu bagi anak autis. dalam hati mereka pasti berkata ‘akan kubuktikan suatu saat’. mereka berpikir lebih daripada kita,mereka melakukan apa yang ingin mereka ketahui. keingintahuan mereka adalah senjata mereka untuk menjadikan sebuah kekurangan menjadi banyak kelebihan. keingin sendirian mereka mebuahkan mereka lebih memfokuskan apa yang ingin mereka ketahui ketimbang mendengar cemooh banyak orang yang jika kita orang-orang yang ‘normal’ pasti akan langsung putus asa dan menyerah.

Sejarah pun membuktikan para penderita autis adalah bagian dari pendiri kemajuan peradaban dunia. Isaac Newton yang juga penderita autis,selalu sakit,dan mudah emosi ini,mempunyai penasaran yang lebih akibat buah apel yang jatuh dari pohonnya. akibat keingin tahuannya,penelitian yang dinilai mustahil bagi banyak orang (tapi Newton tahu ‘dia punya dunia sendiri’) akhirnya membuahkan hukum yang relevan mengenai Gravitasi Bumi. modal awal tonggak kebangkitan dalam ilmu fisika bumi dan antariksa.

Einstein pun dinilai paling gila diantara yang lain. betapa tidak,karena saking mempunyai dunianya sendiri,dia menciptakan sebuah bom atom yang menghancurkan puluhan ribu korban jiwa. namun sumbangannya yang paling hebat adalah hukum relativitasnya. kegilaannya akan sains begitu kental hingga dia dinilai paling jenius diantara para ilmuwan lain di dunia.

sudah waktunya mengubah mindset kita terhadap anak-anak autis. anak autis bukanlah sebuah penderitaan. mereka juga punya hak dan kewajiban. mereka pun perlu menyatu dengan masyarakat meski itu harus memakan waktu. sudah saatnya kita tarik kata-kata pesimis kita terhadap mereka menjadi sebuah pujian bahwa mereka pun bisa seperti kita atau mungkin lebih. Sebuah kekurangan yang ada diri mereka memang selalu dipandang rendah,tapi mereka berani dengan ‘dunianya sendiri’ melawan dunia ini terhadap para cemooh kekurangan dengan menjadikan kelebihan luar biasa melebihi daripada kita.

ingat,autisme bukan sebuah halangan,bukan sebuah bencana,bukan momok dan bukan derita. tapi autis adalah anugerah tuhan yang diberikan hanya kepada seseorang yang dikehendakinya,melalui dunianya sendiri. dengan ‘dunianya sendiri’,mereka membentuk perubahan,membentuk peradaban,menuju dunia yang lebih baik…..

3 pemikiran pada “Autisme : Sebuah Derita atau Anugerah ??

  1. terima kasih infonya, sebenarnya kata autis kita kesampingkan terelebih dahulu, pada dasarnya itu adalah lingkungan, bagaiman kita yang ada disekitar dia bisa mensupport, bisa meningkatkan kepercaya dirian dia dalam kehidupannya. Salam kenal yah🙂

    • wah makasih mas atas komen dan sarannya😀 ini yang menjadi langka mas,sebagian persepsi masyarakat terhadap para penyandang autis sering dijadikan buah bibir yang negatif,maka dari itu mungkin dgn tulisan ini saya bisa memberi informasi kepada kita semua. salam kenal pula ya mas😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s