Antara Sumpah Pemuda dan Hari Pahlawan

Kini kita sudah menginjak bulan November. Terasa cepat sekali waktu berjalan. Kita masih ingat dan hangan dengan Hari Sumpah Pemuda yang baru saja berlalu pada tanggal 28 Oktober 2011.

Meskipun saat itu 2 kejadian yang monumental tersebut terpisah oleh ruang,waktu dan dimensi,masih saja terasa panas yang membara mengenai perjuangan dan berkobarnya semangat mempertahankan dan membentuk kemerdekaan.

Kini kita sudah mencapai kemerdekaan. Telah banyak darah yang mengalir bagi Tanah Air kita yang tercinta. Sekian lama kita terjajah oleh bangsa Eropa sejak 1596 hingga Agresi Militer yang berakhir sejak 1960-an. Sudah usang untuk ‘mempertahankan kemerdekaan yang menekankan pada fisik dan batin’. Kini yang kita harus pertahankan adalah satu hal yang esensi : Ideologi.

Perdebatan ideologi sejak bergulirnya reformasi,membuka kembali keran kemelut Piagam Jakarta dan Konstituante yang menghasilkan kealotan untuk menentukan,apa yang diambil demi cita-cita bangsa dengan sebuah ideologi yang bersifat paradigma dan relevan bagi negara-bangsa yang baru saja berdiri.

Sumpah Pemuda dan Hari Pahlawan,2 kejadian monumental ini,saling berdekatan satu sama lain. Sinkronisasi dari 2 kejadian bersejarah ini membuat sebuah perenungan bagi kita semua : Apa yang harus dilakukan pemuda yang harus kita isi dengan sungguh-sungguh,sebagai penghargaan dan melanjutkan cita-cita para pahlawan (terutama para The Founding Fathers) ??

Semangat Persatuan dari kelompok pemuda saat itu yang ‘dikumpulkan’ dalam Kongres Pemuda II 28 Oktober 1928,bukan hanya ilusi dan berkerumun belaka. Dikala pemuda pada dimensi tersebut berlomba-lomba dengan organisasi pemuda daerahnya,disaat itulah,para pemuda semakin menyadari untuk bersatu menjunjung sebuah pengharapan baru dalam bentuk ‘cetak biru’,Republik Indonesia. Semangat Pluralisme kebudayaan dan sosial yang pada kala itu masih dikotak-kotakkan dengan segala peraturan penjajah kolonial,semakin memahami,untuk tetap memperjuangkan Indonesia dalam ranah Intelektualitas dan Kepala dingin. Pedang pemikiran yang dijunjung tinggi oleh pemuda saat itu.

Dimensi selanjutnya di 10 November 1945,Pemuda memainkan peran kembali dalam mempertahankan kemerdekaan dengan semangat,dan perjuangan fisik yang tak kenal lelah. Surabaya,kala itu dibanjiri banyak darah dari para pejuang muda. Tak ada yang mengenal takut saat itu,hanya ada satu dalam benak pejuang muda : Merdeka atau Mati. Kegigihan mereka memang hanyalah 3 minggu untuk mempertahankan surabaya dari gempuran sekutu,namun semua tak sia-sia untuk menunjukkan pada dunia : Indonesia sanggup mempertahankan daerahnya dengan segala pengorbanan.

Tak ada yang tahu masa depan selanjutnya. Pemuda seakan kini telah tersesat dalam jebakan hedonisme yang berlebih,materialistik yang tak kenal arah,serta berbagai paham duniawi yang berlebihan tentang sebuah surga demi kenikmatan sesaat dan demi sebuah kegengsian semata.

Perbedaan Pemuda dimensi sekarang dengan dimensi 1928 dan 1945 hanya satu : Intelektualitas dan Esensi Semangat. Ke-takseimbangan antara intelektualitas dengan esensi semangat menyebabkan kerancuan dalam menentukan cita-cita yang harus kita gapai,terjebak dalam arus yang benar namun salah menentukan arah. Pengembangan berpikir kali ini lebih menekankan pada hasil jadi ketimbang memperhatikan proses menuju hasil. Terlalu banyak kita dicekoki oleh pendidikan kita untuk selalu mencapai sebuah nilai minimum agar mencapai sebuah kelulusan yang minimal. namun semua itu terabaikan pada segi moral dan cara halal yang seharusnya dipandang penting demi sebuah kejujuran yang harus ditanam bagi penerus bangsa. itu baru satu contoh,pemuda telah terjebak berbagai sudut pandang yang ektrim dan kompleks,sehingga kompleksitas permasalahan tersebut dipandang moderat bagi sebagian kalangan awam.

Di hari antara 2 kejadian tersebut,seharusnya kita merenung kembali,kapan kita mulai berjuang,kapan kita mulai mempertahankan dan apa saja yang sudah kita lakukan demi negara kita. tak ada yang tahu bagaimana nasib masa depan bangsa kita kedepannya. semua tergantung dari para penerusnya,para pemuda. dan kita tak tahu,bagaimana nasib bangsa bila para penerusnya telah hancur dan tak dapat lagi diharapkan untuk meneruskan bangsa ini….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s