Jalan Panjang Menuju ‘Pahlawan’

kita tahu,hari ini adalah hari pahlawan. peringatan dimana tanggal ini (10 November) adalah hari terakhir ultimatum sekutu terhadap para penduduk Soerabaia untuk segera menyerah dan menyerahkan senjata-senjata hasil pelucutan kepada sekutu serta hasil akibat terbunuhnya Brigadir A.W.S. Mallaby. Inilah menjadi titik awal dimana perang panjang mempertahankan Soerabaia selama 21 Hari dipertaruhkan. Perang tersebut sangat luar biasa hingga menjadi medan perang yang sangat dahsyat.

Jalan panjang peperangan ini agaknya sangat berbeda bagi sekarang,10 November 2011. perang ini begitu sangat panjang dan tidak bisa dipungkiri sebagai perang yang melelahkan dan penuh intrik.

Perang debat,perang argumen,perang hukum,dan kerjasama Koruptor,semua menjadi tautan perang yang saling menyulitkan. perdamaian seperti apa yang akan kita dapatkan ?? Korupsi diperangi secara terbuka sejak reformasi (namun baru terbuka disaat pemerintahan SBY-JK),namun hasilnya berhasil sementara hingga jatuhnya Antasari Azhar dari tampuk kepemimpinan KPK. Intrik yang lebih menyulitkan ini yang menjadi indikasi ‘Kerjasama Kurawa dengan lingkaran setan’.

kita butuh banyak pahlawan yang persis seperti pejuang yang dapat mempertahankan Sorabaia dengan segala nyawa,serta jiwa dan raganya. sebagai bangsa yang telah merdeka,kita seharusnya bisa merdeka dari segala belenggu penjajah ekonomi,politik dan sosial. Korupsi seakan menjadi sosok sesungguhnya yang menjajah kita selama ratusan tahun.

Pahlawan apa yang selalu kita dambakan ?? pahlawan adalah seorang yang bisa mengadakan perubahan bagi bangsa kita. meski manusia adalah makhluk yang tak sempurna,namun kita harus selalu berusaha untuk mengadakan kebaikan.

Pahlawan yang rela berkorban meski mempertaruhkan nyawa dan rasa malunya,mengabaikan segala cemoohan dan menghiraukan segala cacian. ini semacam ‘pembawa wahyu’ bagi tercerahkannya bangsa kita.

pahlawan tidak dipandang hanya sebagai orang yang selalu mengangkat senjata secara realita dengan perang fisik dan senjata segala macam (karena cara tersebut sangat tidak relevan dalam kemanusiaan). perangkat otak kita sudah cukup untuk membuat ‘perang’ strategi memikirkan perubahan.

kita jangan dijadikan cap ‘generasi penerus’,jadikan kita sebagai generasi pembaharu. bukan melanjutkan sistem yang bobrok. bila sistem yang lalu masih dianggap relevan,bolehlah kita memakainya. kita itu adalah PEMUDA.

menganalogikan pahlawan masa 10 November 1945 dengan 10 November 2011 kali ini sangat kontradiksi sekali. ironis,pemuda yang takut dengan semangat nasionalisme hanya karena rasa malu,sedangkan pemuda masa lalu tidak takut dengan taruhan yang lebih mengerikan : kehilangan nyawa.

pemuda seharusnya lebih bisa membuka mata hatinya,melihat fenomena sekitarnya yang telah berada pada taraf kronis menuju kritis (atau lebih kepada kritis sepenuhnya). sepenuhnya kita mengharapkan pemuda yang mengubah indonesia,dan selanjutnya ‘Pemuda yang menggetarkan dunia’…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s