Polimerisasi Dan Masyarakat Inklusif

Mungkin tulisan ini terinspirasi dari pengalaman saya yang masih duduk di bangku kelas 3 SMA. Mungkin kebetulan secara sepintas pada saat saya membaca buku kimia,bab Kimia Polimer dan Benzoat. yah ini hanya buah pemikiran saya yang masih ada di jurusan IPA hehehe…

tapi tunggu… saya mendapat satu kata yang menarik perhatian : Polimerisasi. penasaran dengan kata seperti itu. polimerisasi adalah proses bergabungnya homolog-homolog dalam rantai-rantai karbon sehingga membentuk suatu rantai dan susunan karbon yang panjang dan rumit,sehingga sulit untuk diurai bahkan dihancurkan.

ketertarikan akan hal seperti ini mengingatkan saya pada permasalahan sosial di tengah masyarakat kita. banyaknya konflik yang tak berujung dan hancurnya sistem-sistem di Indonesia hingga berdampak sistemik dalam kelangsungan hidup negara. apa yang terjadi dengan hal tersebut sepertinya ada kaitan dengan kata ‘polimerisasi’ ini.

Indonesia merupakan negara yang memiliki heterogenitas paling tinggi di dunia,baik secara bahasa,suku,agama,ras,sampai pada hal IPTEK,sains dan Intelektual-Ideologi. keragaman akan berbagai hal tersebut sepertinya banyak termuat pada semboyan Bhinneka Tunggal Ika. lalu apa yang menghubungkannya dengan Polimerisasi?

Semboyan Bhinneka Tunggal Ika merupakan inti dari polimerisasi masyarakat Indonesia yang beragam. itu dia! keragaman akan berbagai hal ini harus banyak dimanfaatkan untuk kehidupan negara. keragaman merupakan dasar dari ‘seni dan estetika dalam suatu negara’. layaknya sebuah lukisan,warna-warna yang beragam itu saling memberikan rona dan citra sebuah lukisan yang begitu indah dan begitu enak dipandang. dalam pemikiran Nurcholish Madjid,beragamnya masyarakat Indonesia merupakan dasar dari demokrasi dan keterbukaan secara Internal,sehingga timbul suatu hubungan yang ‘Relativisme Internal’,dengan merujuk pada keterbukaan dan berjiwa inklusif serta toleran. sama seperti polimerisasi,suatu unsur karbon yang mengikat begitu panjang dan rumit merupakan gabungan dari berbagai individu berbeda.

Lho,kok beda? harusnya kan sama? dari mana sudut pandang kesamaan itu?

sama dalam sudut membangun peradaban yang madani dan modern yang tetap dalam jalan yang lurus. itu merupakan suatu sudut pandang persamaannya. bisa saya sebut ‘Pluralisme-Sosial’,perbedaan dalam hal banyak namun tetap membentuk sebuah kesatuan sosial demi terbangunnya sistem peradaban yang tegak dan modern. dan kemodernan itu banyak sekali sudut pandangnya. inilah seperti apa yang terjadi pada Polimer : berbeda namun tetap membentuk rantai yang kuat.

dari sudut pandang ini,kita bisa membayangkan,bagaimana masyarakat kita begitu kuat dan begitu kokoh dalam persatuan dan kesatuan meski berbeda-beda. negeri yang semakin beragam ini semakin banyak akan masalah,karena homogenitas akan sudut pandang terhadap satu keadaan masyarakat. kecenderungan pemerintah ini juga sama dengan ‘penolakan terhadap polimerisasi kepada masyarakat’. masalah ini rumit untuk diterangkan,mengingat saya sendiri kurang mengerti dengan sistem politik kita yang semakin kacau dengan materi dan kekuasaan. akhirnya pemerintah semakin mengambil kebijakan secara eksklusif,dan menjauh dari pandangan inklusivitas.

terkadang banyak fenomena di sekitar kita mengenai satu hal yang mungkin tidak penting bagi kita. namun Tuhan Yang Maha Esa dan Mahakuasa Atas Segalanya,menunjukkan pada kita bagaimana sistem alam dapat mempengaruhi sistem sosial kita. terkadang,masyarakat kita perlu terjadi sebuah ‘polimerisasi sosial’,namun satu yang harus menjadi pertanyaan : apakah kita masih mempunyai jiwa toleran dan inklusif?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s