Antara Wanita dan Kemanusiaan (Sebuah Resensi)

Judul Buku       : Ronggeng Dukuh Paruk

Cover Depan Novel

Penulis               : Ahmad Tohari

Penerbit            : Gramedia Pustaka Utama

Jumlah Hal.     : 408 Hal.

Ukuran Buku   : 16 x 21 cm

Tahun Terbit   : Desember 2011 (Cetakan ke-8)

Novel Ronggeng Dukuh Paruk adalah suatu karya yang ditulis oleh Ahmad Tohari sekitar tahun 1982. Buku novel ini adalah hasil penggabungan 3 novel yang termuat menjadi novel trilogi (Catatan Buat Emak,Lintang Kemukus Dinihari,dan Jentera Bianglala). Buku yang memiliki ketebalan 408 halaman ini pada masa rezim Orde Baru banyak terhalang sensor,sehingga selama rezim berkuasa isi dari buku ini adalah hasil sensor ketat. Baru setelah tahun 22 tahun (tahun 2004) buku ini beredar kembali dengan muatan novel yang lebih orisinal tanpa sensor.

Novel ini berkisah tentang kehidupan seorang wanita bernama Srintil,dan seorang pemuda yang juga seorang ‘sahabat’ bernama Rasus. Mereka berdua merupakan 2 tokoh yang terlahir menjadi anak-anak keturunan tanah kampung Dukuh Paruk. Dalam penceritaannya,terjadi perbedaan garis takdir antara 2 tokoh tersebut. Di satu sisi,Srintil menjadi seorang ronggeng akibat kepercayaan kampung yang terlihat budaya dinamisme-pantheistik seperti percaya pada kubur dan indang ronggeng,dan di sisi lain Rasus harus menelan pil pahit dimana seorang Srintil harus menjadi Ronggeng,yang kelak membawanya pada kehidupan barunya menjadi seorang tentara. Selain itu juga,novel ini banyak berkisah mengenai kehidupan Dukuh Paruk yang sering diidentikkan dengan tempat kebodohan,amoral dan pemuja pantheistik Jawa yang kental dengan ‘penyembahan’ pada makam Ki Secamenggala dan Alam.

Pembagian cerita novel ini dibagi menjadi 3,berdasarkan 3 judul buku yang dimuat. Pertama,Catatan Buat Emak. Disini banyak diceritakan bagaimana seorang Rasus yang banyak memiliki konflik batin dan sejarah antara seorang Srintil,Sang Ibu dan Sejarah Dukuh Paruk. Sudut Pandang di bagian ini terlalu menekankan pada ‘Aku’,sehingga pembaca seolah ditarik menjadi orang pertama yang merasakan bagaimana beratnya konflik batin sang Rasus dalam alur cerita tersebut. Diceritakan Rasus memiliki konflik batin mengenai bayangan ‘Sang Ibu’ yang menurutnya bagaikan fisik Srintil. Diceritakan mengapa Srintil dan Rasus yang harus menerima takdir bahwa kedua orang tua masing-masing tokoh harus menghadapi tragedi kematian akibat racun tempe bongkrek. Bagaimana perjalanan hidup Rasus ditentukan pada akhir bagian ini,dimana Rasus ‘secara kebetulan’ tergabung menjadi tentara.

Kedua,Lintang Kemukus Dinihari. Pengisahannya lebih menekankan pada diri Srintil. Transformasi tokoh dan konflik beralih pada Srintil. Disini pembaca lebih ditekankan menjadi orang luar yang memperhatikan,sehingga pembaca hanya sebagai pengamat. Konflik batin yang dihadapi Srintil justru pada hasrat dan jiwa seorang perempuan yang identik dengan keibuan,kelembutan dan berhasrat selalu ingin mempunyai anak. Konflik seorang Srintil terlihat bagaimana dia seorang Ronggeng yang notabene ‘Wanita milik semua lelaki’,dan di sisi lain Srintil ingin menjadi wanita ‘somahan’ yang selalu mengharapkan kasih sayang lelaki yang dicintai dan tulus terhadapnya serta memiliki keturunan sebagai citra perempuan yang keibuan. Suasana alur bagian cerita ini menggambarkan suasana politik 1960 yang kentak dengan PKI dan Manipol-Usdek,paham ‘merah’ sosialis-marxisme yang kental dan huru-hara peristiwa 30 September. Dan akhir bagian kedua ini adalah ditangkapnya Srintil yang dituduh anggota PKI (yang lebih menekankan anggota Lekra),serta Dukuh Paruk yang ‘mati suri’ akibat pembakaran kampung yang telah tercemar ‘merahnya’ Komunis dan PKI.

Di bagian akhir,Jentera Bianglala,menekankan diri Srintil yang harus tunduk oleh rezim. Tekanan terhadapnya dengan cap ‘Komunis’ dan ‘PKI’ membuatnya dia harus tunduk pada zaman dan lebih memilih diam. Cap yang ditempel ke jidat seorang Srintil begitu berat yang dianggap ‘membuat keonaran sejarah’. Namun,dibalik hal tersebut,Srintil berubah menjadi wanita yang lebih keibuan dan lebih menekankan pada feminisme seorang wanita yang baik dan somahan. Tapi yang menjadi ganjalan dalam pikiran Srintil adalah ‘kapan aku berumah tangga dan memilik suami?’ meski mempunyai anak angkat bernama Goder (yang membuat Srintil lebih nyaman untuk hidup),namun pikirannya melayang pada kelanjutan hidup wanita yang ingin menjadi seorang ibu rumah tangga yang baik. Pertemuan dengan Bajus,seorang priyayi proyek yang sangat ‘menyayangi’ Srintil. Kenyataan berbalik dimana Bajus mengancam ‘memasukkan Srintil ke penjara karena melawan kehendak zaman’. Bajus yang terpaksa menjual diri Srintil akibat materi dan tender proyek,menyebabkan Srintil mengalami depresi berat yang mengakibatkan Srintil harus kalah oleh zaman menjadi seorang wanita gila. Pada bagian ini,suasana kisah lebih menekankan pada suasana masa transisi Rezim Orde Lama ke Orde Baru,yang digambarkan banyak proyek pembangunan yang cepat namun tak terkendali.

Dalam ringkasan diatas,mungkin saya tak banyak menjelaskan peran Rasus. Namun,peran Rasus dalam novel ini begitu Sentral,karena sang Rasus merupakan lelaki yang diidamkan Srintil,pasca peristiwa ‘pembunuhan’ dua perampok yang hendak menjarah harta Srintil. Dalam kisah novel tersebut,Rasus kembali menemukan Tuhan yang selama ini belum pernah ia kenal dengan baik. Banyak peran yang dilakukan Rasus terhadap Srintil,sehingga tokoh ini sangat sentral dan terlalu panjang untuk dijelaskan.

Kisah Novel ini sarat akan nilai kemanusiaan dan penghormatan pada perempuan. Srintil merupakan simbol tokoh yang dijadikan sebagai semangat keperempuanan yang berjuang untuk keluar dari hitamnya zaman,dimana perempuan saat itu harus diperbudak oleh lelaki sebagai hawa nafsu dan selalu dikekang dalam memilih hidupnya sendiri. Sangat sarat dengan HAM.terutama lebih menekankan hak pribadi yang juga harus dimiliki seseorang (terutama perempuan). Novel ini juga mengajarkan kita untuk selalu sadar dan ingat sejarah. Sejarah disini bukan harus ditutupi,namun dikaji dan direnungkan sebagai suatu ‘pedoman arah’ agar sejarah yang tak terulang di masa depan. Mungkin ini yang menjadi sensor dari rezim,yang banyak kritik dan pembongkaran sejarah G30S,sehingga banyak terkena sensor.

Terlepas dari banyak kelebihan diatas (meski itu baru sebagian kecil),tetapi novel ini masih memiliki kekurangan,yaitu penceritaan yang bertele-tele dengan sisipan suasana desa yang begitu detail namun keluar dari alur cerita,sehingga cerita seolah menjadi tak konsisten dan terlalu jenuh untuk dibaca. Dan yang paling kental adalah banyaknya kata-kata yang sangat seronok dan kasar,seperti Asu Buntung,Bajul Buntung,dan sebagainya yang begitu kasar dalam kasta Bahasa Jawa maupun Bahasa Indonesia.

Buku ini bagus untuk dibaca,namun hanya bagi yang sudah berumur 16-17 tahun keatas. Batasan ini wajar karena kekurangan diatas yang saya sudah sebutkan. Terlepas dari kekurangan di atas,novel ini begitu bagus untuk dibaca dan sarat akan pesan moral yang tak ternilai harganya bagi kehidupan manusia,terutama kaum perempuan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s