Antara Masjid dan Pusat Pendidikan Umat

Pendidikan merupakan sarana yang sangat esensial dalam membangun masyarakat agar lebih cerdas dan mempunyai bekal yang cukup dalam menghadapi tantangan global yang semakin kompleks dan luas. Kecenderungan masyarakat yang dahulu memiliki keyakinan bahwa pendidikan bukan hal yang utama semakin tergeser ke arah nilai primitive yang semakin hari semakin terpinggirkan,atau malah hilang sama sekali. Pendidikan juga merupakan sarana dalam membangun karakter serta berbagai macam hal yang dapat mewarnai kehidupan manusia agar mempunyai pengalaman dalam hal berbagai bidang.

Sekilas tujuan pendidikan diatas sangat penting dan vital bagi umat manusia. Namun yang dipertanyakan adalah ‘pendidikan yang berpusat pada masjid’,dengan kata lain mesjid sebagai pusat pendidikan umat. Bukan hal isapan jempol belaka,mengingat mesjid adalah pusat dari segala kegiatan umat muslim.

Konteks dari pendidikan tersebut sudah lama dipraktekkan sejak zaman Rasulullah saat menyiarkan Islam dari berbagai aspek kehidupan,baik itu social,politik,kesejahteraan social,hukum dan sebagainya. Di Indonesia,mesjid masih dinilai sebagai sarana ibadah namun dalam pengertian yang masih sempit.

Diberbagai tempat,selalu saja ada satu kegiatan dimana masjid akhirnya dijadikan basis dalam menebar terror dalam fanatisme agama. Kesucian mesjid adalah hal yang mutlak untuk dijaga mengingat tempat ibadah merupakan  rumah Allah dalam hal tajalliNya yang menenangkan.

Seharusnya,mesjid memiliki berbagai aspek dan filosofis yang mendalam. Mesjid merupakan tempat ibadah,namun ibadah tak hanya sholat semata. Dibalik keheningan dan ketenangannya,masjid memiliki berbagai kelebihan sebagai pusat pendidikan. Ketenangannya dan aura positifnya menimbulkan hasrat dalam pikiran untuk berpikir positif sehingga otak merespon positif kegiatan mencari ilmu,dan akhirnya timbullah pikiran positif (dasar dari khusnudzon) untuk memperdalam ilmunya agar lebih terasah dan semakin terlatih.

Mesjid merupakan tempat persilangan budaya yang sangat penting. Masjid tidak dibedakan antara ras,budaya dan golongan,semua serba dipertemukan dalam mesjid. Karena persilangan ini,terjadi dialog dan diskusi mengenai keilmuan yang sangat kaya dan variatif. Tercermin dari sejarah peradaban islam yang dahulu banyak membuka pintu mesjid agar umat muslim (atau mungkin dari berbagai agama) untuk menuntut ilmu di masjid (atau di sekitar lingkungan mesjid).

Peradaban spanyol merupakan model yang penting dalam pendidikan yang berpusat pada masjid seperti berdirinya Universitas Cordova yang di masa lalu banyak melahirkan ilmuwan dan para filsuf muslim yang berkompeten dan jempolan. selain itu,di Mesir,Universitas Al-Azhar didirikan pertama kali sebagai masjid,namun karena perkembangan ilmu pengetahuan di tempat itu sangat tinggi,maka timbullah berdirinya Al-Azhar yang memusatkan kegiatan pendidikannya di masjid.

Selain itu,mesjid merupakan tempat yang pas dalam pengajaran dan pendidikan mengenai ilmu-ilmu yang diturunkan Tuhan kepada umat manusia. Ketenangan dan hawa positifnya mendorong orang-orang yang mencari ilmu semakin haus akan ilmu yang akan diperolehnya. Tak ayal,di masa peradaban salaf Islam,banyak berkembang ilmu-ilmu hikmah dan agama seperti Fisika,Ilmu Hayati,Matematika,Logika,Filsafat Islam,Hadits,dan lain sebagainya.

Namun,masjid juga bisa disalahgunakan untuk menyebarkan kebencian oleh segelintir oknum yang mengaku islam yang benar. Saya banyak mendengar gerakan-gerakan salafi yang menodai pemikiran islam dengan pemikiran fanatic yang sangat berlebihan dan intoleran. Disini,seharusnya mesjid dijadikan tempat awal dalam bertoleransi baik kepada umat muslim yang berbeda pendapat dan pemahamannya,maupun mereka yang di luar masjid sebagai non-muslim. Penebaran kebencian kepada orang lain yang belum tentu bersalah merupakan penodaan kesucian terhadap mesjid itu sendiri sebagai penampakan rumah Allah. Disinilah basis pendidikan karakter toleransi,bukan menebar kebencian.

Disini saya dapat menyimpulkan,masjid bukan hanya tempat ibadah formal seperti sholat dan membaca Quran,sholat dan membaca Quran saja memiliki aspek keilmuan dan filosofis yang mendalam,apalagi mesjid yang notabene tempat ibadah kaum muslim. Perkembangan aspek keilmuan yang bernilai positif ini akan melahirkan satu pusat sumber keilmuan yang mengalir terus menerus,sehingga akan tercipta kerangka pikiran dalam umat dan teranalisis oleh ahli lain sebagai referensi pemecahan solusi dari berbagai aspek permasalahan kehidupan umat manusia. Dasar Filosofis masjid sebagai pusat dari pendidikan ini member sebuah harapan dimana kemajuan berpikir umat muslim akan semakin nyata,bukan hanya menyejahterakan masjid dengan memperkaya dekorasi saja,namun memberi kaidah dan pemberian positif bagi kesejahteraan umat manusia,baik dari segi jasmani,ruhani serta berpikir lebih logis dan menjadikan manusia semakin berpikir dan berjiwa toleransi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s