Islam,Masjid dan Demokrasi

perkembangan zaman kini semakin mengarah pada kemodernan hidup. selain itu,perkembangan dalam pergantian suksesi kepemimpinan pun sudah semakin maju. kaitan Islam dan demokrasi pun sudah dalam titik terang dengan adanya sistem syura’ (meski dalam berbagai hal ada sebagian yang memiliki perbedaan yang signifikan).

namun,kenyataan yang kini kita hadapi adalah kurangnya dalam diri negara kita dalam ijtihad perkembangan demokrasi. demokrasi yang menekankan pada kedaulatan rakyat mengalami kemandekan dalam prakteknya. secara teori,perkembangan demokrasi amat pesat. namun,dalam keadaan lapangan,ada saja sabotase dan beberapa hal yang amat vital keluar dari dalam konteks konseptualisasi demokrasi yang sehat.

kita kini semakin berpikir,pernyataan seorang Syahid Islam asal Mesir,Sayyid Quthb,bahwa kita dalam demokrasi sebenarnya tak bebas dalam memilih serta lebih cenderung pada penggambaran pada thagut. gambaran yang disajikan Quthb pun memang tidak ada salahnya. namun alangkah baiknya demokrasi ini adalah bukan masalah dalam aqidah yang selama ini dipersoalkan. masalah aqidah adalah sangatlah sensitif dan tak dapat diubah. demokrasi adalah instrumen dan cara (atau mungkin salah satu dari cara) dalam Islam.

banyak hal yang sudah dikembangkan dalam zaman perkembangan demokrasi di Indonesia. ada beberapa teori,dari demokrasi Islam hingga demokrasi sekulerisme yang lebih ekstrim. bahkan ada saja yang masih tak menerima sistem demokrasi.

namun,perlu kita renungkan,demokrasi adalah salah satu jalan yang dapat kita pakai. namun,kita harus menjaganya dari segala hal yang kini sedang dalam masa eksesif seperti maraknya politik uang,suap,penggelembungan suara,jual beli suara,DPT berganda dan lain sebagainya. disini Islam ditantang untuk menciptakan suatu norma dalam berdemokrasi yang sehat. pengejawantahan syariat ini yang harus kita tekankan dalam berijtihad dalam hal konteks demokrasi.

salah satu yang amat menarik adalah peran sentral masjid dalam pengembangan demokrasi.

mungkin ini baru sekedar teori. namun,alangkah baiknya kita dapat merenungi mengenai perkataan dari seorang ulama besar Indonesia,Buya Hamka. dalam bukunya,Pendidikan Agama Islam,beliau mengemukakan bahwa masyarakat muslim sejatinya dapat mengembangkan demokrasi bila dapat menjadikan mesjid sebagai sentra perkembangan masyarakat dan dengar pendapat atau aspirasi dalam perkembangan kehidupan masyarakat. dan bila ini dapat dikembangkan maka demokrasi dapat kita kembangkan secara benar. menurut beliau,demokrasi ini disebut demokrasi takwa.

definisi takwa sendiri adalah adanya God conciousness seperti apa yang sering diucapkan oleh Cak Nur dalam bukunya Islam,Doktrin dan Peradaban. dengan adanya kesadaran ketuhanan ini,sejatinya muslim memiliki semangat ketuhanan serta menumbuhkan daya cipta dalam akal pikirannya serta jiwa raganya untuk selalu bertujuan mendekatkan diri kepadanya. inilah yang akan tercipta ‘berlomba-lomba dalam kebajikan’.

perkembangan Islam kini harus mencapai momentumnya,terutama sudah berjalan amat lama sekali dari berkembangnya demokrasi. dengan adanya momentum seperti ini serta sarana prasarana yang sudah mumpuni,kita dapat merumuskan demokrasi yang sehat dengan nilai-nilai Islam yang kaffah. selain itu,mengaktifkan kembali masjid sebagai sentra perkembangan masyarakat dan demokrasi akan banyak menyadarkan masyarakat bahwa mereka tidak disia-siakan oleh pemimpin dan lingkungannya. akhirnya,bila hal ini terjadi,akan terciptalah suatu sistem modern yang sangat mengagumkan : demokrasi takwa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s