Menafsirkan Kembali “Islam Yes,Partai Islam No”

kasus yang dihadapi PKS kini adalah sebuah tamparan telak dalam kancah perpolitikan Islam di Indonesia. sebagai partai yang dinilai bersih,inilah yang menjadi apa yang disebut para pengamat sebagai Tsunami Politik. dalam kejadian ini,muncul kembali jargon Cak Nur 43 tahun yang lalu : Islam yes,Partai Islam no. apakah jargon ini masih relevan?

Menafsirkan Kembali

dari peluncuran jargon ini,Cak Nur dikatakan sebagai tokoh Islam yang kontroversial hingga kini (berbarengan dengan seruan sekularisasi yang banyak disalahpahami banyak orang hingga kini pula”). kenyataan kini adalah masih relevankan partai Islam berkancah di dalam politik Indonesia. saya berani menjawab : Ya. jargon diatas bagi saya hanyalah interpretasi bagaimana partai Islam jangan dijadikan sebagai sesuatu dituhankan bahkan sebagian dari keimanan dalam Islam.

dengan kata lain,seharusnya dengan berpartai,seharusnya dapat menumbuhkan rasa toleransi antar partai dan berbagai pemahaman. Bung Karno pernah berkata bahwa partai seharusnya sebagai wadah dalam menuangkan ide,menghikmatkan ide dan membumikan ide.

jargon Islam yes partai Islam no pun jangan disikapi secara reaktif. namun harus direnungkan kembali bahwa pada dasarnya dengan mencap adanya partai Islam bukanlah hal yang sakral,namun sebagai satu intrumen dalam membumikan nilai-nilai Islam. dalam berpolitik disini seharusnya partai Islam dapat mengejawantahkan nilai Islam dalam konteks kemodernan agar tak kehilangan dinamika. isu partai Islam pun sebenarnya sangatlah sensitif dimana Islam disini yang dipertaruhkan. bila tercoreng saja sedikit,maka mungkin saja hal itu dapat menurunkan kepercayaan umat akan kepercayaan terhadap partai tersebut.

namun,harus kita apresiasi,kini partai Islam seperti PKS adalah mungkin masih terbaik dalam kancah politik kita. meski ada saja oknum yang berbuat khilaf,tapi tak selayaknya partai Islam harus dicaci maki. dengan jargon Cak Nur,bukan berarti kita menolak partai Islam toh? bahkan,Cak Nur sendiri dalam kekonsistenannya pada jargon tersebut,tetap mendukung partai Islam seperti PPP dan PKS.

maka dari itu,kini sudah saatnya jangan mempermasalahkan lagi partai Islam. kini yang kita lihat adalah kinerja partai,transparansi dalam berpolitik serta moral-idealismenya. saya sendiri masih menggantungkan harapan saya pada partai Islam. meski keluarga saya banyak yang tak percaya pada parpol (terutama parpol Islam),tapi saya tetap mendukung partai Islam meski saya pun mendukung jargon Cak Nur. maksud dari jargon tersebut adalah pertama,jangan mensakralkan partai Islam seperti bagian dalam keimanan apalagi tercampur dalam akidah. kedua,mengambil hikmah dimana setiap partai politik memiliki tujuan sama yaitu membangun Indonesia yang beradab,namun harus kita cerdas bagaimana kinerja mereka dalam berbagai aspek dimensi.

akhirnya,saya mengatakan jargon Cak Nur masih relevan. namun tidak berarti kita melarang adanya partai Islam. meski begitu,partai Islam harus banyak berinterospeksi serta memperbaiki diri partai sehingga dapat lebih baik kedepannya. Partai yang adil,sejahtera namun tanpa kehilangan nilai keislaman serta terbuka terhadap berbagai masukan serta kritik maupun berbagai pemikiran masyarakat.

3 pemikiran pada “Menafsirkan Kembali “Islam Yes,Partai Islam No”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s