Pandangan Saya Terhadap Panasnya Mesir Kini

berita yang hangat akhir-akhir ini adalah mengenai keadaan politik di Mesir yang memanas. Memanas karena apa? karena pelengseran atau bisa disebut kudeta oleh militer yang dipimpin as-Sisi. kini,presiden ad-interim Mesir adalah Adly Mansour. entah mengapa,pendukung Moersi (yang menurut saya bagian dari simpatisan dan para pendukung Ikhwan al-Muslimin) merasa tidak menerima Moersi lengser. tentu saja alasannya sangat berdasar : Moersi adalah presiden pertama yang dipilih secara demokratis di Negeri Piramida tersebut.

dalam hal ini,saya lebih mengira-ngira bahwa kerusuhan ini ada 3 faktor : masih kuatnya kedudukan militer dalam kekuasaan sehingga pelengseran menjadi sebuah keniscayaan,pernyataan Moersi yang menurut saya keliru sehingga menghambat kerja perbaikan Mesir di masa transisi dan adanya perebutan kekuasaan antara kekuatan Islam dan pihak Liberal-Sekuler. tentu saja,negeri dengan beragam pemahaman pemikiran di negeri ini begitu sangat terkenal. sudah berpuluh tahun sejak penggulingan kerajaan terdahulu di Mesir,pengangkatan kepala negara berdasarkan sistem sosialisme arab yang dinilai keras dan agresif hingga masa dimana mubarak bisa saya sandingkan dengan masa rezim Soeharto yang lebih mementingkan stabilitas daripada gonjang-ganjing pergantian kepemimpinan. tentu pada masa yang panjang tersebut,militer begitu kuat sehingga ada suatu ideologi keras dalam sistem pemerintahan di Mesir.

kenyataan ini bisa kita lihat secara tersirat dalam buku Sayyid Quthb yang cenderung agresif dalam memandang masa awal sosialisme mesir yang begitu keras dan agresif. sehingga,yang diutamakan adalah jihad ofensif yang mementingkan untuk melindungi tegaknya masyarakat muslim di mesir. tentu hal ini berkenaan dengan tercorengnya ‘nilai demokrasi’ oleh para penggiat demokrasi yang mengaku-ngaku tersebut. Ikhwan al-Muslimin disini lebih cenderung pada aspek tarbiyah dan pendidikan yang menyuburkan para kadernya untuk berjihada dalam berbagai aspek dan dimensi kehidupan masyarakat. tentu IM bukan hanya menyebar di Mesir,tapi juga seluruh dunia termasuk Indonesia.

perlawanan disana tentu dalam hal untuk membebaskan masyarakat Mesir untuk memilih pemimpinnya secara demokratis dan terbuka. dalam hal ini,saya ingin mengatakan seperti apa yang Cak Nun pernah katakan dalam salah satu tulisannya bahwa “demokrasi merupakan tangga awal untuk kita naiki kembali ke tangga yang lain. dan demokrasi itu hanya dari salah satu tangga tersebut.” pernyataan ini tentu saja sama dengan “one step for the long way”. satu langkah ini dapat mengubah keadaan disana lebih baik lagi. tentu,kita bangga Mesir sebagai negara Muslim terbesar dapat memilih pemimpinnya secara demokratis,adil dan terbuka.

namun tentu saja,komunikasi Moersi yang menyatakan jangan ada satupun yang mengkritik dalam pemerintahannya dapat saja dipahami oleh orang lain secara beda. paham ini akhirnya bersifat dikotomi dan terbelah dua,antara yang memahami bahwa Moersi sama saja dengan Mubarak yang otoriter dan eksklusif dan di sisi lain adalah untuk kepentingan masa transisi yang perlu adanya tangan besi yang dingin untuk memperbaiki segalanya di Mesir. tentu hal ini perlu kita renungkan bahwa pada dasarnya,Moersi menghendaki masa transisi tanpa ada gonjang-ganjing yang tidak perlu,namun pernyataan tersebut adalah awal dari terhambatnya kinerja Moersi dalam menjalankan pemerintahannya.

tentu saja,saya lebih mendukung Moersi dalam hal ini,karena dipilih secara demokratis dan menurut pikiran saya,hal ini perlu diketahui bahwa Moersi hanyalah ingin menginginkan ketenangan dalam masa transisi. Gonjang-ganjing yang dilakukan pihak Liberal-Sekuler tentu saja dapat kita lihat sebagai ketidaksabaran mereka dalam menghadapi jalan panjang menuju perubahan Mesir yang lebih baik. pandangan yang short-term dalam politik adalah ibarat mementingkan hal yang sebenarnya tidak penting padahal di jalan yang lebih jauh lagi ada hal yang lebih dipentingkan. tentu ini berarti bahwa pemerintahan Moersi mementingkan adanya suatu program jangka panjang yang harus kita tempuh secara sabar dan konsisten. sehingga,inilah kesehatan politik harusnya dapat di Mesir. namun,ternyata timing and moment-nya tidak tepat. Moersi tentu saja menjadi limbung dan akhirnya menjadi ‘korban’ kudeta.

inilah pandangan saya mengenai keadaan politik yang sekarang makin menggila di Mesir. meski begitu,saya tidak menutup kemungkinan (bahkan sangat besar) bahwa adanya ‘politik luar negeri yang kotor’ juga ikut berperan besar dalam penggulingan Moersi. Republika men-share berita mengenai penutupan lorong menuju palestina yang membuat Israel senang,tuduhan Moersi mata-mata Hamas dan berbagai hal lainnya yang membuat kita semakin yakin adanya intrik-intrik kotor di balik itu semua.

pandangan saya ini hanyalah bersifat temporer, bisa benar,bisa salah. tapi apapun yang kita lihat sekarang. Mesir sedang bergejolak,bukan karena kepentingan,tapi rakyat butuh kebebasan,dan kebebasan itu tercoreng oleh tergulingnya presiden pertama yang dipilih secara demokratis oleh kekuatan otoriter militer Mesir.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s