Mencari Pemimpin Yang Kosmopolit dan Keindonesiaan

Pernah satu bulan yang lalu,saya menyewa sepeda ketika saya sedang berada di Pare,Kabupaten Kediri. Sang Pemilik Sewa tersebut tiba-tiba saja membicarakan pemimpin masa kini. Ya,zaman sekarang dipandang oleh sang pemilik sewa tersebut sebagai zaman yang keras. Dia pernah berkata,”saya lebih baik dipimpin oleh orang keras seperti Soeharto,tapi kesana dan kesini (bepergian maksudnya) aman. Saya mendukung petrus. coba saja,dulu preman saja,bahkan ada tato sedikit,di-dor! Makanan dan kebutuhan lain amat murah. Wong cilik banyak diberi kenyamanan dan pekerjaan. Bisa pergi ke kota dengan penghasilan yang mungkin cukup untuk kehidupan sehari. Sekarang sudah beda,pemimpinnya saja seperti itu. Apa itu kebebasan dan reformasi. itu gagal!”

Sepintas,saya berpikir,zaman dulu toh enak sekali ya. Pak Harto memang dikenal sebagai pemimpin yang saya rasakan sebagai ‘pemimpin wong cilik’. Namun tentu saja,banyak hal yang harus kita gali dari segi negatif kepemimpinan beliau. Tentu sudah banyak buku yang saya baca mengenai ‘kebobrokan’ kepemimpinan sang Bapak Pembangunan tersebut.

Tapi,terlepas dari itu semua,presiden kita selama ini adalah dominan berasal dari jawa. Saya pun selalu berpikir bahwa pada dasarnya,trik feodalisme jawa dan sentralisasi kepemimpinan ala kraton jawa masih sangat kental dalam kepemimpinan kita. Hanya Habibie saja yang berasal dari luar jawa (sulawesi). karena arah kepemimpinan itu,banyak hal yang telah terjadi dalam sejarah Indonesia kita ini terutama penyebab yang parah adalah adanya sentralisasi penduduk di pulau jawa.

sentralisasi kependudukan ini tentu saja membuat daerah lain terbengkalai. Papua adalah daerah yang parah terkena dampak sentralisasi ini. tentu kita tahu,penduduk Papua adalah paling terbelakang dan bahkan (secara kasar) dapat ‘dibodohi’ oleh asing dengan berbagai triknya yang picik. tentu apa yang kita namakan nasionalisme (dalam konteks yang aman adalah ‘cinta tanah air’) hanya rumusan kosong belaka.

Kembali kepada kepemimpinan,keluasan wilayah Indonesia dengan keragaman budaya dan berbagai tingkah laku masyarakat yang ada menimbulkan harusnya mencari pemimpin yang tak hanya berwibawa,namun dapat melebur dengan masyarakat yang majemuk. tentu ini sangat penting dalam berbagai aspek kepemimpinan. dalam bahasa sosialnya,perlu adanya “pemimpin yang kosmopolit”,dapat melebur dan bergabung kepada masyarakat.

pengertian kosmopolit ini tentu saja harus ‘dibatasi’ agar tak secara liar ditafsirkan sebagai seorang yang tak punya pendirian dan budaya sendiri. kosmopolit ini harus ditekankan pada nilai-nilai keindonesiaan yang sangat majemuk. kosmopolitanisme pemimpin dalam keindonesiaan amat dibutuhkan untuk meyakinkan penduduk untuk bekerjasama dalam membangun negara secara gotong royong tanpa ada saling curiga. Dengan itu,bukan lagi kharismatik yang ditonjolkan,akan tetapi penghormatan satu sama lain sebagai manusia yang akhirnya menciptakan nilai egalitarianisme sosial yang berdasarkan pada keadilan sosial.

perlu direnungi untuk membaca hadits Rasulullah bahwa : “pilihlah pemimpin dari bangsa Quraisy”. Dalam sejarahnya,Qushay,Abdul Muthallib,Abu Thalib juga Rasulullah Muhammad adalah berasal dari bangsa Quraisy. Para 4 Khalifah Rasyidin berasal dari Quraisy. Konteks yang diambil adalah mengambil semangat Quraisy dalam hal kepemimpinan. Kemampuan mereka dalam merangkul seluruh suku,ide dan kreativitas dalam membangun Mekah,tata letak dan kerja sama kemasyarakatan serta mobilitas dan semangat perekonomian yang ada perlu kita renungkan bahwa yang diambil adalah semangat dan sifat bangsa Quraisy tersebut. sehingga,dalam pencapaian hadits tersebut,tersirat perlunya jiwa kosmopolitan dalam memimpin Indonesia. tentu dengan selera keindonesiaan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s