Mengingat Kembali UUPA

Sebenarnya,pada tanggal 24 September yang lalu adalah hari Agraria Nasional. Mengapa tanggal tersebut sangat penting dan bersejarah? Jawabannya karena disahkannya Peraturan Perundang-Undangan mengenai Pertanahan. Dalam hal ini tentu sangat penting karena sebelum tanggal 24 September 1960,peraturan mengenai pertanahan diatur dalam peraturan peninggalan kolonial,yaitu Agrarische Wet 1870.

Memang,dalam peraturan tersebut memuat banyak sekali perubahan terutama banyak peraturan baru dan segar yang sama sekali belum pernah diundangkan,seperti Hak Guna Usaha dan Hak Guna Pakai. Namun meski begitu,dapat diakui bahwa hukum pertanahan yang diatur dalam undang-undang tersebut sebagian berkategori “penyesuaian dari peraturan sisa kolonial”. Hanya saja,dalam hal ini hukum yang lebih dominan adalah Hukum Adat.

Dalam kacamata hukum kolonial,hukum terbagi menjadi dua,yaitu Hukum Barat dan Hukum Adat. Hukum Barat lebih bersifat Individualistik-Liberal dan tertulis. Muatannya adalah pemikiran hukum dan filsafat hukum Barat. Hukum Barat sendiri (yang khususnya dalam hukum Belanda) berakar pada hukum Perancis yang lebih mendalam lagi bersumber pada kodifikasi hukum Romawi Kuno. Sedangkan dalam Hukum Adat,itu bersifat lebih Komunalistik-Relijius dan tak tertulis. Meskipun tak tertulis,namun ditaati masyarakat dan sangat mengikat. Sehingga,ini lebih bersifat adat-istiadat dan kebiasaan yang lazim dalam masyarakat tertentu. Menurut ahli Hukum Adat asal Belanda, Van Vollenhoven,mengatakan bahwa hukum Adat ini adalah sangat baru dan sesuai untuk peraturan-peraturan suatu tempat dan bersifat lebih menyesuai.

Meskipun begitu,muatan dominan pada Hukum Adat dalam pertanahan dan agraria di Indonesia bersifat sangat relatif. Terutama kini Negara mulai kewalahan dalam mengurusi urusan lahan. Banyak yang menduga bahwa hukum Agraria di Indonesia sudah tak relevan. Namun,banyak pula yang berpendapat bahwa hukum Agraria di Indonesia masih relevan,hanya saja implementasi dan pemahaman mengenai UUPA perlu diperbaharui dan lebih modern,karena dekade 60-an berbeda dengan tahun 2013.

Dalam hal ini,kasus mengenai kepemilikan lahan,sengketa lahan dan penyerobotan tanah merupakan hal yang menjadi dominan dalam penanganan hukum Agraria di Indonesia. Hari ini,Koran Republika menerangkan bahwa kasus sengketa lahan menjadi hal yang pelik dalam penanganan dan pembenahan daftar kepemilikan tanah. Pemberian sertifikat tanah diharapkan dapat menjadi pengurang sengketa yang muncul dalam masyarakat mengenai masalah lahan.

Akan tetapi,seharusnya negara melalui Badan Pertanahan Nasional lebih peka dalam menangani berbagai masalah pertanahan di Indonesia. Pertanahan dominan berhubungan dengan bidang agrikultur. Pembenahan pertanahan di Indonesia yang semakin hari semakin menyusut akibat pembangunan non-produktif (di luar perkebunan dan pertanian) sangatlah merugikan negara yang dikatakan sebagai negara agraris. Krisis pangan yang terjadi kini akibat kurangnya lahan yang memadai dalam menangani masalah bidang agrikultur. Meskipun ada solusi lahan vertikal,namun hal tersebut belum bisa menjawab permasalahan karena kurang komitmennya pemerintah dalam masalah sains pertanian.

Tentu,UUPA harus dipahami secara modern karena seakan UUPA sudah tak pernah lagi terdengar dalam misi pemerintah dalam membangun Indonesia dalam kerangkan Sosialisme Indonesia. Meskipun terkesan ‘jadul’,namun para pembentuk UUPA di masa lalu mengetahui bahwa masalah mengenai pertanahan akan lebih pelik sehingga perlu penanganan yang serius. Perlu pula adanya ketegasan dalam hukum bagi yang melanggar UUPA (tentu peraturan turunan yang berkaitan dengan UUPA). Kekurangannya hanya dalam masalah Law Enforcement.

Maka,UUPA harus dipahami kembali. UUPA bukan sekedar rumusan kosong saja. Perlu adanya penegakan hukum dalam pertanahan. Karena,tanpa adanya penegakan hukum mengenai pertanahan,maka kita akan kembali mundur ke zaman Belanda,bahkan lebih buruk lagi kembali ke zaman Majapahit.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s