Modernisme Pemikiran Islam : Pemahaman dan Perkembangannya

Perkembangan pemikiran Islam kini sedang dalam masa pertumbuhan, meskipun dalam intensitas perkembangannya tersebut dapat dikatakan tidak seramai perkembangan pemikiran-pemikiran di masa lalu. Hal ini disebabkan karena perkembangan pemikiran tersebut dapat dikatakan stagnan dan hanya berputar pada permasalahan yang sama seperti di masa lalu, seperti permasalahan pemerintahan, kedudukan perempuan, pluralisme sosial dan kemajemukan agama bahkan dalam masalah pakaian pun masih diperdebatkan.

Perkembangan pemikiran Islam tersebut tentu memiliki momentum yang perlu sekali kita perhatikan dengan seksama dan teliti. Berkembanganya modernisasi (atau yang lebih disebut dengan pembaharuan atau modernisme) memiliki momentum yang sangat krusial pada zamannnya. seperti Ibnu Khaldun sebagai penanda ‘titik balik pemikiran Islam’ dan berlanjut secara estafet dari Jamaluddin al-Afghani, Muhammad ‘Abduh dan Muhammad Rasyid Ridha. Berkembangnya semangat pembaharuan tak lepas dari beberapa poin seperti masalah sosial-masyarakat, politik, budaya dan bahkan permasalahan agama yang begitu rumit dan kompleks.

Yang perlu kita pertanyakan pada pembaharuan pemikiran Islam tersebut adalah, apa yang dimaksud pembaharuan pemikiran Islam dan sampai mana batas pembaharuan tersebut. Respons masyarakat Islam terutama yang awam amatlah bervariasi, ada yang acuh tak acuh, skeptis, mengapresiasi juga ada yang mengutuk (bahkan mengkafirkan). Tentu ini perlu kita jernihkan dengan jalan yang objektif dan menghindari apa yang disebut subjektivitas dalam menilai suatu pemikiran. Makalah ini hanya akan menjelaskan pemahaman mengenai pembaharuan Islam dan sejarah berkembangnya. Penulis pun tidak lupa untuk menyeimbangkan dengan kritik yang bisa dipertimbangkan sebagai ‘mengembalikan pemikiran Islam ke jalan tengah (wasath)’.

***

Terkait dengan pendahuluan makalah ini, menarik untuk mengutip perkataan Harun Nasution mengenai perkembangan modern Islam.

“Perkembangan modern dalam Islam timbul sebagai akibat dari perubahan-perubahan besar dalam segala bidang kehidupan manusia yang dibawa oleh kemajuan pesat yang terjadi di dalam ilmu pengetahuan dan teknologi modern. Masalah-masalah yang ditimbulkannya dalam bidang kenegaraan, termasuk Islam, adalah lebih pelik dari yang terdapat dalam bidang-bidang kehidupan lainnya.”

Senada dengan Harun Nasution, Nurcholish Madjid secara tersirat merincikan titik awal berkembangnya pembaharuan pemikiran Islam.

“… Marilah kita perjelas disini bahwa apa yang terjadi itu pada hakikatnya bukanlah penghadapan antara dua tempat : Asia dan Eropa; atau antara dua orientasi kultural : Timur dan Barat; atau, lebih tidak benar lagi, antara dua agama : Islam dan Kristen. Yang sesungguhnya berlangsung adalah penghadapan antara dua zaman : abad Agraria dan abad Teknikal.”

Terlepas dari kekurangan dari pendapat tersebut dapat kita lihat bahwa titik awal mulai berkembangnya modernisme pemikiran Islam bermula dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi. Modernisme yang ditimbulkan oleh bidang IPTEK ini mewarnai suatu perubahan pesat dalam masyarakat, khususnya dalam masyarakat Islam (baik di Timur Tengah, India, Afrika Utara dan Asia Tenggara). Pernyataan Cak Nur mengenai zaman agraria dan zaman teknikal merupakan suatu pernyataan yang dapat dikatakan tepat, karena saat itu perkembangan masyarakat Islam sedang dalam masa surutnya, yang disebabkan konflik politik dalam dinasti, bekunya pembaharuan di segala aspek (terutama dalam ilmu hukum dan IPTEK) dan permasalahan keuangan dan militer yang begitu rumit dan kompleks. Namun, perlu diperhatikan pula bahwa, menurut M. Umer Chapra (seorang peletak dasar pemikiran Ekonomi Islam Modern), kemunduran paling utama dalam kekhilafahan Islam adalah perpecahan politik, yang dibarengi dengan keuangan ‘negara’ yang semakin menyulitkan akibat belanja militer yang tidak efisien dan efektif serta belanja negara yang tergolong boros sehingga mengabaikan aspek yang lebih penting atau dharuriyyah seperti salah satunya bidang keilmuan.

Kurangnya membaca pergerakan zaman oleh sebagian besar umat Islam pada masa itu menyebabkan suatu kecelakaan sejarah yang mendalam, yaitu mulai tertinggalnya peradaban Islam oleh peradaban barat yang penuh dengan teknikalisasi di berbagai lini, terutama dalam bidang ekonomi seperti inovasi dan percepatan menghasilkan output atau barang jadi. Tak hanya itu, permasalahan mulai merembet pada masalah politik-kenegaraan dan menghujam pada permasalahan apakah agama (terutama Islam dalam masalah ini) bertentangan atau selaras dengan akal. Kemunduran ini menghasilkan skeptisisme pada sebagian muslim dan di pihak lain terlalu apologetik.

Masa modernisasi yang ditandai oleh berkembang pesatnya ilmu pengetahuan dan teknologi, seperti yang dikatakan oleh Cak Nur :

“Karena modernisme masyarakat perubahan yang terlembagakan, maka dengan sendirinya asumsi dasarnya ialah perubahan atau ketidakpastian.”

Perubahan dan ketidakpastian ini menyebabkan adanya kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja muncul. Ini dikenal dengan teori probabilitas yang penuh dengan kemungkinan yang bisa saja semua itu terjadi. Dalam ranah sains, probabilitas merupakan kunci atau kaidah adanya dinamisme ilmu pengetahuan dan bersifat relatif. Pemikiran seperti ini telah ‘menyerang’ fondasi agama yang sebenarnya sudah mapan. Sehingga, ini yang menjadi kunci penyebab pertanyaan ‘apakah Islam bertentangan atau selaras dengan akal?’

***

Dengan modernisme yang mengalir begitu deras, ada beberapa tokoh yang menekankan pembaharuan dalam pemahaman Islam. Tokoh tersebut adalah Jamaluddin al-Afghani, yang secara estafet diberi kepada Muhammad ‘Abduh dan selanjutnya Muhammad Rasyid Ridha yang ketiganya berasal dari Mesir dan terjadi pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20.

Dari ketiga tokoh ini, pembaharuan yang diawali oleh Jamaluddin al-Afghani masih bersifat politis dengan pemikirannya mengenai Pan-Islamisme dalam membendung dan berhadapan dengan peradaban Barat. Berbeda dengan muridnya yang akhirnya memilih jalannya sendiri, Muhammad ‘Abduh lebih memilih pembaharuan dengan jalan keilmuan, yang ditandai dengan peran sertanya dalam lembaga pendidikan Islam, Universitas al-Azhar dan Majelis Fatwa Mesir (‘Abduh pernah menduduki posisi Mufti Besar Mesir). Hal ini dilanjutkan pula oleh Rasyid Ridha yang lebih pada bidang menulis dan media yang terkenal dengan Majalah al-Manar yang banyak menjadi bahan utama pembaruan di berbagai dunia Islam terutama di Indonesia.

Namun, jika kita tarik lagi ke masa yang lebih lampau, pembaharuan Islam telah muncul lebih awa pada abad ke-18. Pembaharuan yang dicetuskan Muhammad bin ‘Abdul Wahab di jazirah arab merupakan ‘pembaharuan yang mengejutkan’. Betapa tidak, pembaharuan tersebut muncul ‘tanpa adanya persinggungan dengan Barat.’ Karena tanpa persinggungan dengan Barat, pembaharuan tersebut lebih bersifat internal. Corak pembaharuan tersebut sendiri lebih condong pada purifikasi dan membersihkan masyarakat Islam dari segala praktek yang sebenarnya tidak dilakukan oleh Rasulullah, yang tercantum dalam Qur’an dan Sunnah. Perlu untuk mengutip latar belakang seorang Muhammad bin ‘Abdul Wahab yang dideskripsikan oleh Fazlur Rahman :

“Muhammad ibnu ‘Abdul Wahab, di masa mudanya adalah seorang penganut sufi tetapi kemudian terkena pengaruh-pengaruh tulisan-tulisan Ibnu Taimiyyah, yang penolakannya terhadap pemahaman doktrin Wahdatul Wujud Ibnu ‘Arabi, dan di atas segalanya, yang kegairahan moral puritaniknya, telah memberikan pengaruh yang mendalam baginya.”

Lebih lanjut, Fazlur Rahman mengungkapkan karena pengaruhnya yang begitu mendalam dalam pikiran seorang Muhammad bin ‘Abdul Wahab, dia banyak mengkritik dan menyerang kebiasaan masyarakat akan praktek sufi yang dianggap bid’ah dan khurafat seperti praktek ziarah makam wali yang ‘tidak lazim menurut Sunnah’, pemahaman syafaat Nabi dan Wali yang dinilai ‘tidak bisa dimasukkan sebagai suatu praktek yang sunnah’ serta menyerang kebiasaan taqlid. Secara garis besar, Ibnu ‘Abdul Wahab memiliki titik balik paling ‘keras’, yang awalnya ada seorang yang mendalami kesufian, mengarah pada purifikasi yang begitu ‘fundamentalis dan progresif’. Kelak, muncul gerakan Wahabi yang terinspirasi dari Ibnu ‘Abdul Wahab telah banyak menginspirasi hingga ke Indonesia, yang diawali peristiwa Perang Paderi akibat pergolakan kaum tuo dan kaum mudo (pergesekan antara Islam-adat dengan Islam-puritan).

Berbeda dengan pembaharuan Islam di India yang diawali oleh Syah Waliyullah pada abad pertengahan abad ke-18 yang lebih kepada pendekatan tasawuf. Pendekatan tasawuf ini begitu kental di India dengan akar yang mendalam, terutama komunikasi intens dengan kebiasaan masyarakat India, selain mayoritas masyarakat India saat itu beragama Hindu. Pada beberapa puluh tahun selanjutnya, akan timbul pemikiran Islam yang cenderung ‘mendekati sekularis’ seperti ‘Ali ‘Abdul Raziq, Sayyid Ahmad Khan dan Sayyid Amir ‘Ali.

Konflik antara pemahaman sufisme dengan puritanisme di masa lalu memiliki akarnya yang mendalam akibat pemahaman Ibnu ‘Arabi yang banyak mencetuskan paham kesufian ‘yang liar’. Paham Wahdatul Wujud ini pun sebenarnya banyak menginspirasi banyak orang seperti Syeikh Siti Jenar di Jawa yang banyak menimbulkan keresahan (tidak hanya pada masalah pemahaman agama yang murni, juga stabilitas politik dan kekuasaan). Konflik ini bisa kita lihat di Aceh pada abad ke-16 hingga ke-17, dimana Nuruddin ar-Raniri banyak ‘mengkafirkan’ tokoh-tokoh Islam seperti Hamzah Fansuri dan Syamsuddin al-Sumaterani yang menganut paham sufi Wahdatul Wujud.

Dengan faktor internal dan juga eksternal seperti perkembangan pesat Barat dengan teknikalismenya, pembaharuan pemikiran Islam menjadi sebuah kebutuhan yang mendesak.

***

Telah dibicarakan di awal makalah, bahwa pembaharuan Islam sebenarnya telah dimulai sejak, memakai bahasa Fazlur Rahman, masa pra-modern, yang dicetuskan oleh Muhammad bin ‘Abdul Wahab (yang juga diterima baik oleh keluarga Ibnu Sa’ud dalam mendirikan suatu negara monarki Saudi Arabia) dan Syah Waliyullah dengan pendekatan sufistik dan kritisnya. Namun, pembaharuan tersebut, masih bersifat internal dan terlalu memancing persinggungan keras, antara kaum puritan yang bersemangat untuk memurnikan ajaran Islam berdasar Qur’an dan Sunnah dengan kaum sufi yang banyak mendekatkan dirinya secara batin dan ruhaniyah dalam mencari kasyf dan pencapaian batiniah tertinggi dengaa (bahasa kasarnya) ber-ekstase. Persinggungan (bisa dikatakan konflik) antara dua orientasi prinsip pemikiran tersebut telah menjadi suatu perpecahan yang hebat.

Secara jauh, pada abad ke-19, merupakan puncak dari terpuruknya peradaban Islam. DEngan berbagai masalah akibat ‘tertutupnya pintu ijtihad’ (yang dimana ijtihad tersebut lebih kepada ikhtiyath atau kehati-hatian, namun ditanggapai secara berlebihan sebagai ajaran mutlak), kemandekan alam pikiran dan penyegaran kembali Islam menemui suatu keprihatinan yang mendalam. Usaha menuju pembaharuan tersebut sebenarnya telah lebih awal dicetuskan secara politis oleh Jamaluddin al-Afghani. Namun, dengan karakter pendekatan politisnya, hal tersebut menjadi suatu pembaharuan yang dapat dikatakan mentah, karena, menurut Fazlur Rahman, pendekatan yang diambil adalah mengenai kesatuan dunia Islam dan populisme. Mungkin sekali dari titik pemahaman ukhuwah Islamiyah, Pan-Islamisme al-Afghani beranjak. Namun, secara realistis, perpecahan di kalangan umat Islam merupakan suatu fakta yang tak terhindarkan. Sehingga, pembaharuan al-Afghani masih dikatakan ‘mentah’.

Berbeda dengan muridnya yang akhirnya mengambil jalannya sendiri, Muhammad ‘Abduh lebih bergerak pada bidang pendidikan dan lembaga keagamaan. Perannya yang begitu besar di Universitas al-Azhar dan pernah menjadi Mufti Besar Mesir, setiap perkataan dan ‘tindak tanduknya’ selalu menjadi perhatian. Komunikasi dan jalinannya dengan peradaban Barat (pernah mengunjungi negara Prancis) mengubah begitu banyak pandangannya yang dahulu. Pernyataannya ‘Islam tertutupi oleh kaum muslim sendiri’ merupakan kalimat populer dalam semangat pembaharuan awal dalam masa awal abad ke-19. Tak hanya itu, sikapnya semakin kental dengan semakin ditekankannya rasionalitas yang tercermin antara lain penafsiran terhadap Qur’an yang bisa dipandang ‘rasional’, seleksi hadits yang menjadi amat ketat yang tidak hanya mutawattir, namun juga masuk pada akal dan pikiran, hingga ‘berusaha’ untuk memasukkan mata kuliah filsafat bagi setiap mahasiswa al-Azhar. Meskipun akhirnya menghadapi kegagalan, pemikiran ‘Abduh dapat dikatakan telah berhasil dan banyak mengilhami berbagai tokoh Muslim di seluruh dunia, termasuk di Indonesia (seperti K.H. Ahmad Dahlan yang terilhamkan dengan semangat ‘tak bertaklid buta’ pada satu mazhab saja).

Berlanjut kepada murid ‘Abduh, Muhammad Rasyid Ridha, perlu untuk dikutip pernyataan Fazlur Rahman yang kontras dengan gurunya :

“Di Timur Tengah, kegiatan Muhammad ‘Abduh di satu pihak diikuti oleh perkembangan-perkembangan intelektual yang hampir-hampir murni Westernis, dan, di lain pihak, diikuti oleh gerakan-gerakan Salafiyah yang di bawah pimpinan murid ‘Abduh, yaitu Rasyid Ridha (1865-1935), yang berkebangsaan Syria, bergerak dengan tetap ke arah suatu jenis fundamentalisme yang sangat erat hubungannya, dan memang diakui demikian, dengan Wahabisme.”

Terlepas dari skeptisisme penilaian Fazlur Rahman terhadap Rasyid Ridha, dapat dikatakan bahwa jalan pikiran Rasyid Ridha amat berbeda dengan gurunya, dimana Ridha, meskipun tetap menghargai gurunya, mengambiln jalannya dengan semangat pembaharuan bersifat ‘mendekati Wahabisme’. Melalui tulisan-tulisannya di Majalah al-Manar, semangat pembaharuan keislaman (yang tak hanya rasionalisasi, juga memurnikan ajaran Islam yang sesuai dengan Qur’an dan Sunnah) tersebar hingga ke Indonesia. Bahkan, Majalah al-Manar bisa dikatakan sebagai referensi utama berbagai tokoh pembaharu Islam dalam mencari ‘ilham’ terhadap pencarian satu masalah yang memang dapat dikatakan baru.

Tiga tokoh pembaharu tersebut telah membuka jalan pembaharuan selanjutnya menjadi arus yang sangat besar. Respons pembaharuan ini bisa dikatakan telah membentuk tiga jalan pikiran : revivalisme, sekuleris-westernisme dan modernisme. Revivalisme merupakan gerakan fundamentalisme dan terkadang bersifat apologetik, namun dalam dinamika pergerakannya, mereka sangat progresif dan militan. Visi mereka yang lebih diwarnai dengan ‘kembali kepada Qur’an dan Sunnah’ menjadikan mereka lebih memiliki pergerakan yang jelas. Seperti Ikhwanul Muslimin yang terinspirasi dari pemikiran Rasyid Ridha yang tertuang dalam Majalah al-Manar, dan Jamaat-i Islam yang salah satu tokohnya adalah Abu al-A’la al-Maududi.

Sekuleris-westernisme dapat dikatakan pergerakan yang begitu ‘kontroversial’. Mereka yang tergabung jalan pikiran ini dapat dikatakan merupakan begitu ‘fanatik’ dengan perkembangan peradaban Barat yang maju. Dengan alur berpikirnya ‘masalah agama merupakan masalah pribadi dan tidak seharusnya dibawa ke ranah negara’ telah menyuburkan pemahaman nasionalisme yang salah kaprah menuju sekulerisme. Di kalangan umat muslim sendiri, gejala pemikiran tersebut timbul karena ‘Islam sudah tidak bisa menyesuaikan dengan perkembangan zaman dan menghadapi peradaban Barat yang maju.’ Hal seperti ini terjadi di Turki dengan aktor utamanya Mustafa Kemal Attaturk dengan mengembangkan sekulerisme berdasarkan pemaksaan militer yang membabi buta dan mencerabut semua warisan masa lalu. Hal ini ditanggapi Nurcholish Madjid dengan suatu kesedihan mendalam, dimana dengan tercerabutnya segala yang berkaitan dengan masa lalu, telah mencerabut identitas Turki menjadi lebih buram dan terputus dari masa lalunya, dan dikataka ‘kehilangan jati diri terombang-ambing’. (Di Indonesia sendiri, Soekarno pernah mengagumi Sekularisme ala Attaturk).

Sedangkan yang terakhir adalah modernisme. Kalanga modernis dapat dikatakan adalah pertengahan (meski dapat dihindari kata ‘pragmatis’). Modernisme disini berusaha untuk menerjemahkan Islam sebagai titik tolak kemajuan yang selalu selaras dengan semua zaman. Penafsiran dan takwil terhadap Qur’an dan Sunnah juga tak terlepas dengan tafisarn dan takwil dari lingkungan dan masyarakat yang berkembang berdasarkan sejarah dan adat. Dengan pemahama sejarah Nabi yang banyak mendekati masyarakat baik secara etika akhlak yang baik dan pendekatan yang begitu ‘halus’ telah menjadi ilham bagi kalangan modernis dalam menerjemahkan Islam yang tidak hanya ‘melampaui zaman’ juga ‘rasional dan supra-rasional’. Namun, untuk beberapa kasus, kalangan modernis berada pada keraguan, sebagian karena kurangnya pendidikan Islam tradisional (atau istilah Indonesia Salaf). Kasus yang ditemui adalah Sayyid Ahmad Khan yang akhirnya mengingkari Sunnah (termasuk Hadits) sebagai dasar pemikiran dalam Islam. Kerentanan ini merupakan suatu hal nyata bila pemahaman dasar Islam tradisional yang tidak kuat.

***

Maka, apa pembaharuan itu? KIta telah sampai pada memahami pengertian apa itu pembaharuan pemikiran. Sebelum kita kepada poin ini, menarik untuk mengutip kembali pernyataan Harun Nasution mengenai sebab mandeknya perkembangan pemikiran Islam.

“Dalam agama, terdapat ajaran-ajaran absolut, mutlak benar, kekal, tidak berubah dan tak bisa diubah. Akibat pemahaman (yang tidak mendalam dan berlebihan tersebut), timbul sikap dogmatis, cenderung memahami ajaran agama sebagai dogma, tidak bisa menerima perbedaan pendapat, tertutup, tak bisa menerima perubahan, tradisional, emosional dan rasional.”

Untuk memperjelas makna pembaharuan itu sendiri, berikut penulis mengutip secara panjang pernyataan Fazlur Rahman dalam bukunya, Islam.

“Sebenarnya, tak sesuatu pun yang secara fundamental janggal dalam peminjaman kaum modernis atas pola-pola dan mode-mode budaya Barat, karena hal itu dilakukan oleh setiap peradaban yang tumbuh, dan itulah sebenarnya yang juga dilakukan Islam ketika ia berekspansi ke luar batas-batas tempat kelahirannya di Arabia. Tetapi, Islam dahulu tidaklah semata-mata ‘meminjam’; ia mengislamkan semua yang dipinjamnya dengan mengintegrasikannya ke dalam suatu kerangka nilai-nilai yang Islamis dan proses interpretatif ini terjadi pada setiap kebudayaan yang berkembang.

Tetapi, integrasi unsur-unsur sosial dan budaya yang baru ke dalam suatu masyarakat tak dapat dilakukan semata-mata dengan penafsiran yang sepotong-potong dan bersifat ad hoc saja terhadap teks-teks fundamental tertentu; ia memerlukan lebih banyak kegiatan organis berupa penafsiran diri dan pengungkapan diri di pihak kebudayaan yang mengasimilir di mana sistem nilainya diberi makna yang baru.”

Dengan kata kunci integrasi dan interpretasi, menandakan dua buah kunci pembaharuan pemikiran Islam. integrasi dan interpretasi ini tak bisa dilepaskan dengan keterbukaan dan dialog yang intens dan penuh dengan kelapangan dada untuk menghasilkan suatu apa yang disebut pembaharuan. Meskipun begitu, ada suatu mekanisme filter yang perlu kita capai masing-masing, yaitu menafisrkan teks-teks fundamental seperti Qur’an dan Sunnah secara menyeluruh dan tidak sepotong. Penafsiran itu sendiri haruslah berjangka luas dan visioner dan menghindari vested-interested dan hawa nafsu semata. Cak Nur menerjemahkan secara berat sebagai ‘beragama dengan cara utilitarianis, yang menandakan beragama yang mengharapkan imbalan dan pamrih serta ketidak-ikhlasan, yang membuat pahala menjadi sia-sia terbuang’.

Maka, makna pembaharuan (modernisasi atau modernisme) pemikiran Islam senada dengan tajdid dan ijtihad. Perlu pula untuk mengutip pepatah Arab, al-muhafazhatu bi’l qadim ash-shalih wa’l akhdzu bi’l jadid al-ashlah. Maka pengertian pembaharuan itu sendiri adalah ‘kemauan untuk mengubah baik dari daya pikir, lisan dan juga tindakan menuju kepada kemajuan dan kebaikan tanpa merusak tatanan dasar yang memang sudah menjadi dasar yang permanen (dalam Islam, terutama Qur’an dan Sunnah).

Pembaharuan merupakan suatu keharusan sepanjang zaman, berdasarkan hadits bahwa akan muncul mujaddid selama 100 tahun sekali untuk ‘memperbarui agama’. Bagi Harun Nasution, lebih menjelaskan sebagai berikut.

“… Sepanjang masa (akan) timbul penjelasan dan penafsiran mengenai ajaran-ajaran dasar dan prinsip-prinsip yang terkandung dalam Islam. Penjelasan dan penafsiran para ‘ulama’, yang disebut ijtihad itu, kian lama kian banyak jumlahnya, dan memerlukan buku-buku tebal dan berjilid-berjilid. Ijtihad ‘ulama’ yang jauh lebih banyak jumlahnya dari ayat-ayat al-Qur’an sendiri, juga merupakan bagian dari ajaran Islam. Tetapi karena ajaran-ajaran yang berasal dari ijtihad ini adalah hasil pemikian manusia, maka ia bersifat relatif dan tidak absolut.”

Ketidak-absolutan ijtihad ini, terlepas telah banyak menggoncangkan pemahaman ijtihad ulama masa lalu, namun hal tersebut mendekati kata tepat. Ijtihad merupakan proses yang akan terus berlanjut hingga akhir zaman. Namun, penulis tidak sependapat bahwa memukul rata semua pendapat ulama masa lalu sudah tak berlaku adalah sesuatu yang keliru, atau malah dikatakan salah sama sekali dan bentuk kelancangan.Menggali pemahaman ijtihad ulama masa lalu sekaliber para imam empat mazhab, Ibnu Taimiyah, Ibnu Qayyim, Ibnu Khaldun dan lainnya merupakan suatu tindakan memperkaya khazanah Islam terutama dalam membaca ijtihad ulama masa lalu dan analisisnya secara mendalam. Tentu, metodologi yang dipakai akan berbeda meskipun dalam Ushul Fiqh memili kaidah yang sama, namun hal itu akan menjadi relatif dan selalu akan menimbulkan perbedaan dalam masalah furu dan juz’i.

Maka, pembaharuan itu sendiri jangan sampai termakan pada kerelatifan yang didasarkan pada probabilitas berlebih. Seperti yang dikatakan Ibnu Khaldun mengenai teori sebab-akibat (yang juga menjadi dasar probabilitas) jangan terlalu diletakkan terlalu berlebihan karena akan menimbulkan kemusyrikan. Sehingga, makna pembaharuan yang dikatakan Fazlur Rahman merupakan tepat, untuk tidak asal meminjam, dan menafsirkan secara sepotong, namun harus berdasarkan suatu kehati-hatian dan didasarkan pada penilaian yang sesuai dengan Qur’an dan Sunnah. Dengan pembaharuan tersebut, diharapkan akan tercipta umat Islam yang benar-benar ‘Umat Islam’, yang menurut Cak Nur mengisyaratkan kecukupan diri dan kemandirian. Semoga hal itu bisa terwujud. Amin…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s