Peran Perkembangan Modernisasi Pemikiran Islam Dalam Membentuk Nilai Keindonesiaan

Pemikiran merupakan satu kegiatan manusia yang amat penting, sejalan dengan kaidah Rene Descartes, Cogito Ergo Sum. Berpikir menandakan eksistensi dinamika kehidupan manusia di muka bumi. Sejalan dengan itu, dalam Islam, sebagai Khalifah Allah di bumi, berpikir merupakan anjuran Allah yang telah tertuang dalam al-Qur’an dan Sunnah. Maka, berpikir adalah satu instrumen penting dalam mengarahkan kemana masyarakat akan berjalan. Berpikir seperti sebuah koin, memiliki dua sisi. Bisa mengarah pada kebaikan, maslahat dan manfaat, juga bisa kepada keburukan, mafsadat dan mudarat.
Kesempatan kini, penulis menyempatkan menyampaikan materi tulisan mengenai modernisasi pemikiran Islam. Pentingnya pemikiran adalah seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Sebagai khalifah Allah, manusia memiliki perbenturan dan perbedaan baik sesama manusia maupun dalam diri manusia itu sendiri (pertentangan antara hati nurani dan hawa nafsu). Maka, konteks pembaharuan atau modernisasi ini menandakan bahwa manusia memiliki dinamikanya dalam berkehidupan di dunia ini. Dengan kata lain, manusia bersifat nisbi atau relatif, bisa salah, bisa benar. Kebenaran yang didapat, meskipun berasal dari ajaran agama, terkadang bersifat relatif (kecuali dalam masalah ibadah wajib dan asasi yang tak ada kompromi), sehingga membutuhkan adanya pembaharuan.
Manusia yang menempati ruang dan waktu sudah tentu ikut dalam alur sejarah yang serba dinamis, sehingga kemauan untuk berubah untuk lebih baik merupakan sesuatu yang sangat alami dan fitri. Sayangnya, perubahan itu bisa menjadi hal yang amat lebih buruk bila lebih mementingkan hal yang duniawi yang bersifat jangka pendek, kesenangan sesaat dan vested-interest. Maka, peran agama, terutama Islam, adalah hal yang sangat substantif dan amatlah penting. Sehingga, seperti yang sering kita baca dalam al-Qur’an bahwa jika manusia menginginkan dunia maka Allah pasti akan memberinya, namun bila mengharapkan dunia sekaligus akhirat, maka itu lebih baik. Juga anjuran untuk berdoa yang juga berdasarkan firmanNya untuk tidak hanya mengharapkan dunia saja sehingga bisa berakibat siksa di neraka, juga mengharapkan akhirat agar menjadi jalan keselamatan bagi para hambaNya. Inilah yang sering kita baca dalam shalat, yaitu untuk selalu mengharapkan ditunjuki kepada shirathal mustaqim. Nanti selanjutnya akan dibicarakan mengapa Islam begitu penting dan membahas dinamika pemikiran Islam itu sendiri.

Agama tidak pernah terlepas dari permasalahan budaya masyarakat. Al-Qur’an, yang turun dari Allah ke dunia melalui perantara malaikat Jibril kepada Rasulullah, yang tadinya tidak menyejarah dan tidak terikat ruang waktu, akhirnya pun menyejarah. Hal itu tercermin apa yang disebut para ulama fiqh sebagai asbabun nuzul. Sebab turun berkaitan dengan permasalahan yang ada pada saat itu, contohnya saja saat di kala perang, masalah waris dan sikap kepada kaum kafir yang dahulu bersifat halus menjadi perang. Amat menarik, dari hal tersebut, sebagai konsekuensi kaidah Islam sesuai dengan segala zaman dan tempat, maka hal itu bisa dipraktekkan di berbagai tempat. Dengan bekal al-Qur’an dan Sunnah, maka manusia memiliki pegangan yang membuatnya bisa hidup dengan baik dalam tujuannya amar ma’ruf nahi munkar dan mengambil yang manfaat dan membuang yang mafsadat. Ini sesuai dengan hadis bahwa dengan dua warisan yang ditinggalkan Rasulullah (al-Qur’an dan Sunnah) maka manusia tidak tersesat. Sayangnya, hal ini masih banyak disalahpahami oleh sebagian muslim dengan memaksakan dua warisan tersebut secara mentah dengan keadaan masyarakatnya masing-masing. Tentu al-Qur’an dan Sunnah tidak se-instan itu! Al-Qur’an dan Sunnah, dengan konsekuensi nilai keuniversalannya, harus dipahami oleh manusia, bukan al-Qur’an dan Sunnah yang serba instan memberi ini dan itu. Maka, hal itu bersifat fatalistik dan dua warisan Rasulullah tersebut tidak memanusiakan manusia, seperti yang saya sebutkan konsep khalifah.

Penulis disini pula akan membahas ajaran Islam dalam perannya membangun nilai keindonesiaan yang melekat bagi masyarakat Indonesia, yaitu nilai-nilai yang tertuang dalam Pancasila. Mungkin sebagian dari kita begitu bosan dengan penyebutan sila-sila yang dahulu saat bersekolah di tingkat dan menengah yang seakan kering tanpa makna dan hanya seperti kayu keropos yang tak begitu menarik. Disini menarik untuk kita melihat antara pemikiran Islam yang begitu berperan membentuk substansi pancasila sehingga tidak kering dan sarat penuh makna. Dengan pemahaman ini, maka ada suatu pemahaman yang akan lebih menarik dalam membentuk masyarakat Islam-Indonesia dengan karakter yang begitu unik. Sehingga, kita akan melihat, begitu berhasilnya nilai Islam mengakar di Indonesia dan bagaimana pasang surutnya pembaharuan pemikiran Indonesia serta perannya dalam membangun Indonesia baik secara sosial dan politik.

***

Proses terbentuknya nilai keindonesiaan itu sudah begitu lama. Kristalisasi kepribadian bangsa yang tertuang dalam lima sila dasar negara, yaitu pancasila. Nilai keindonesiaan tidak akan terpisah dengan keislaman itu sendiri. Interaksi menarik antara Islam dan budaya Nusantara, yang bisa disebut sebagai Budaya Islam adalah sesuatu yang perlu kita cermati. Poin pancasila yang banyak bersinggungan dengan Islam, dilihat dari peminjaman kata serapan bahasa arab yang mewarnai pancasila itu sendiri, seperti adil, adab, hikmah, musyawarah, wakil dan rakyat.

Interaksi Islam dan Budaya Nusantara, secara jelas, interaksi yang bisa ditemukan dalam Ushul Fiqh mengenai ‘urf dan kaidah fiqh yang bernama al-‘adah muhakkamah. Meskipun begitu, ada poin-poin positif dan negatif yang perlu kita jelaskan mengenai nilai keindonesiaan yang dasarnya adalah ‘islami’.

Perlu kita ketahui bahwa agama dan budaya berinteraksi maka akan membentuk suatu kebudayaan yang dinilai sangatlah Islami. Kebudayaan Islam di Indonesia dapat dikatakan unik karena tanpa adanya perang dan masuk dengan jalan yang damai. Pendekatan tasawuf yang begitu halus juga melalui jalur perdagangan yang menunjukkan etika yang baik telah banyak meluluhkan masyarakat saat itu, sehingga halangan, meskipun ada, adalah sangat sedikit dan tidak memiliki kesulitan apapun. Contoh tersebarnya Islam di Nusantara adalah di Aceh, Sumatera Barat dan Pulau Jawa. Aceh dan Sumatera Barat lebih kepada pendekatan melalui pendidikan tasawuf dalam penyebarannya (Aceh sebagai tempat pertama dekat daerah Barus, sudah mencapai tingkat masyarakat Islam yang advanced dengan menjadi pusat pendidikan Islam terbesar se-Asia Tenggara). Berbeda dengan Jawa, pendekatannya melalui budaya masyarakat berupa wayang, dan lagu rakyat sebagai instrumen dakwah yang merakyat, sehingga dakwah tersebut, yang bersifat populis, dapat diterima masyarakat banyak.

Pendekatan tasawuf yang begitu halus dan bersifat esoteris, membentuk suatu kepribadian masyarakat yang terbuka dan ramah, sehingga secara sadar atau tidak sadar, membentuk kepribadian muslim Indonesia yang ramah. Namun, karena tidak diimbangi dengan pendekatan fiqh yang begitu eksoteris dan ‘sedikit keras’, muslim Indonesia bersifat luwes dan fleksibel, meski secara ekstrim bisa dikatakan ada yang menyimpang. Ini bisa diambil contohnya pada Islam-Kejawen yang menjadi ‘varian’ Islam yang memang menyimpang setelah Syekh Siti Jenar memperkenalkan kesufian Wahdatul Wujud dan Budaya Minang dalam segi warisan dan masih bertahannya adat lama yang membuat panas kelompok Padri yang berpaham Wahabi pada abad ke-18.
Nilai keindonesiaan sendiri, meski bagian dari hasil interaksi Islam dan Budaya, namun bukan bagian dari ajaran Islam itu sendiri. Ini pula dijelaskan dalam Ushul Fiqh bahwa ‘urf hanyalah instrumen penjelas untuk menjadikan Islam yang luwes dan fleksibel, serta kaidah al-‘adah muhakkamah yang terbatas pula sebagai penjelas dalam hal membentuk kepribadian yang baik dan sebagai corong amar ma’ruf.

Menarik mengutip tulisan Nurcholish Madjid mengenai interaksi Islam dan budaya ini.

“Oleh karena itu, agama adalah primer, dan budaya adalah sekunder. Budaya dapat merupakan ekspresi hidup keagamaan, karena itu sub-ordinate terhadap agama, dan tidak pernah sebaliknya. Maka sementara agama adalah absolut, berlaku untuk setiap ruang dan waktu, budaya adalah relatif, terbatasi oleh ruang dan waktu.”

Bila agama adalah suatu hal yang universal dan berlaku bagi semua zaman dan tempat, maka, tak pernah terlepas dengan budaya manusia yang bersifat partkularistik dan amat profan dan sering berubah-ubah. Agama tanpa instrumen budaya, itu adalah mustahil, karena meskipun begitu agama pun menyejarah. Turunnya Islam ke bumi, terlepas dari ‘keterlepasan dari sejarah’ seperti yang dikatakan Gus Dur, pada akhirnya menyejarah. Kita mengenal Asbabun Nuzul dan Asbabul Wurud, karena interaksi agama dan budaya manusia yang tertuang dalam hukum sejarah yang memang sudah Sunnatullah.

Sehingga, Agama dan budaya, seerat apapun dan tak terpisahkan, memiliki nilai dan tingkatan yang berbeda. Sehingga budaya Islam bukanlah Islam itu sendiri. Budaya Islam hanyalah hasil pemahaman manusia yang bersifat partikular dan hanya menjawab pada satu masalah di zaman dan tempat itu saja, sehingga bersifat profan dan terkadang tidaklah esensial, periferal dan pinggiran. Perlu adanya suatu pembedaan mengenai Islam dan Budaya itu agar tidak terjerumus pada kejumudan dan taklid yang tidak proporsional. Cak Nur, meskipun agak sedikit gegabah, menamakan hal itu sebagai tindakan sekularisasi, dimana me-landing-kan nilai Islam tanpa mencampuradukkan nilai yang sebenarnya sakral dan asasi dengan nilai yang profan dan cabang, sehingga bukan dengan maksud sekularisme. Disinilah, perlu dibedakan mana yang Haq, Shahih, Khair dan Ma’ruf.

***
Percampuradukan antara Islam dan budaya memang memiliki suatu hal yang pelik bagi umat Islam sendiri, sehingga menimbulkan suatu kejumudan dan akhirnya membuat kesulitan bagi dunia Islam. Timbullah gerakan reformasi pemahaman Islam dengan dinamakan modernisasi pemikiran Islam. Dalam konstelasi global, modernisasi pemikiran Islam memiliki momentumnya pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, yang dicetuskan oleh Jamaluddin al-Afghani, Muhammad ‘Abduh dan Muhammad Rasyid Ridha. Modernisme yang dilancarkan oleh ketiga ulama modernis itu, menurut Fazlur Rahman, meliputi modernisme intelektual dan modernisme politik. Terlepas dari modernisme politik yang dapat dikatakan mentah sama sekali karena pemahaman Pan-Islamisme yang masih dikatakan tidak berkembang sempurna oleh Jamaluddin al-Afghani, modernisme intelektual memncapai suatu momentum yang tepat dan berkembang pesat. Terutama ‘Abduh dan Rasyid Ridha, modernisme yang dilancarkan keduanya banyak mempengaruhi banyak orang terutama muslim Indonesia, sebut saja K.H. Ahmad Dahlan, K.H. Hasyim Asy’ari (meskipun tidak setuju dengan semangat anti-taklid ‘Abduh), dan H. Agus Salim.

Perbenturan Islam dengan Barat yang banyak diwarnai oleh rasa ‘kekalahan’ umat Islam sebenarnya bukanlah hal yang tepat, karena perbenturan itu, konsekuensinya, menghasilkan inferiority complex dalam pribadi umat Islam, yang akhirnya membela agama secara membabi buta dan menjadi apologetik. Menarik mengutip pemikiran Cak Nur kembali menanggapi ‘perbenturan’ ini.

“Marilah kita perjelas di sini bahwa apa yang terjadi itu pada hakikatnya bukanlah penghadapan antara dua tempat: Asia dan Eropa; atau dua orientasi kultural: Timur dan Barat; atau, yang lebih tidak benar lagi, antara dua agama: Islam dan Kristen. Yang sesungguhnya berlangsung adalah penghadapan antara dua zaman: Abad Agraria dan Abad Teknik.”

Bukanlah suatu perbenturan baik dalam masalah kultural atau keagamaan itu sendiri, melainkan permasalahan orientasi berpikir yang apakah masih dalam bentuk pemikiran abad Agraria yang serba konvensional dan dengan pendekatan yang sudah terbilang ‘old-fashioned’ atau pemikiran yang secara teknikal berdasarkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kemajuan Barat di bidang teknologi membuat dunia Islam terperangah tak berdaya terhadap kemajuan Barat itu sendiri. Dari kalangan pemikir Islam sendiri, ada yang terlalu ‘silau’ dengan kemajuan Barat sehingga seakan berlindung dari kemajuan yang begitu pesat itu.

Anekdot seorang Gus Dur yang mempertanyakan relevansi hukum Islam di abad modern kini serta kemajuan Indonesia di zaman orde baru, merupakan suatu kenyataan adanya suatu ‘perbenturan’ antara hukum Islam dengan kemajuan Barat yang lebih pada pendekatan Saintifik-Empiris dan ilmu pengetahuan. Bila hal itu dibenturkan, maka hal itu menjadi suatu clash yang takkan berkesudahan, yang akhirnya akan menunggu daftar antrian layaknya hancurnya otoritas gereja Roma saat itu yang amat mempertentangkan antara agama dan kemajuan ilmu pengetahuan. Mungkin amat kasar bila penulis mengatakan seperti itu, tetapi hal itu bisa saja niscaya.

Modernisasi pemikiran Islam pada akhirnya menemui suatu interaksi yang semakin menarik, antara Islam, nilai keindonesiaan hasil interaksi Islam dan Budaya, dan Modernisasi yang kini telah memasuki abad teknologi informasi dan digital. Apakah hal itu bisa dijawab oleh Islam? Itu bukanlah pertanyaan yang proporsional, karena ini seharusnya ditujukan kepada umat Islam sendiri. Maka, Islam tidak boleh seperti apa yang dikatakan oleh ‘Abduh, Islam tertutupi dan terhalang oleh umatnya sendiri.

***

Abad modern kini, ditengah kemajuannya, bisa dikatakan memiliki ketimpangan yang ekstrim. Di kala kemajuan mempermudah kehidupan manusia menjadi lebih efektif dan efisien, di sisi lain timbul suatu degradasi nilai kemanusiaan. Nilai materialistik menjadi semakin menonjol, sedangkan nilai kemanusiaan semakin pudar. Kenyataan kehidupan kemanusiaan kini adalah seperti itu. Timbul alienasi manusia dari nilai kemanusiannya sendiri yang menghasilkan dehumanisasi.

Fundamentalisme yang banyak timbul kini adalah jawaban akibat alienasi dan dehumanisasi. Seruan untuk kembali kepada nilai kemanusiaan dan, tentunya, nilai keagamaan merupakan suatu yang sangat vokal dan keras. Tak jarang, suara itu mengorbankan nilai kemanusiaan itu sendiri seperti yang terjadi pada fenomena ISIS, Boko Haram, Jehovah Witnesses dan berbagai gerakan fundamentalisme yang ada di berbagai agama lainnya.

Tentu hal ini menjadi suatu pertanyaan bagi kita, apakah modernisasi kini adalah yang baik menurut kita? JIka pertanyaan itu baik, maka hal itu menjadi status quo dan hanya akan menjadi stagnan, sehingga kehidupan manusia terancam pada jurang dehumanisasi menuju sekedar manusia dengan jiwa hewannya. Bila hal itu mengatakan tidak, maka, ini yang disebut perlunya berpikir secara post-modernisme. Meskipun bahasa tersebut bisa dikatakan kasar, hal itu dinilai oleh banyak kalangan dengan dua sisi : positif dan negatif.

Ini bisa kita lihat pada permulaan pembaharuan K.H. Ahmad Dahlan dalam memurnikan Islam dan dalam waktu bersamaan menyuntikkan pendidikan Barat yang sarat dengan ilmu pengetahuan. Di lain sisi, banyak kalangan terutama ulama kolot menentang itu. Pembaharuan, dimana-mana, banyak mengorbankan banyak hal.
Berbicara secara kesejarahan, Indonesia sebenarnya memiliki kesempatan modernisasi yang lebih luas dibandingkan dengan negara lain. Pluralisme sosial dan sikap keterbukaan memberikan kesempatan umat Islam-Indonesia lebih memanfaatkan peluang itu dalam memahami kembali pemikiran Islam yang lebih bermanfaat bagi banyak orang, terutama rakyat Indonesia. Sayangnya, dalam hal ini, sering kita banyak terbentur berbagai hal. Gus Dur dalam tulisannya mengenai hukum Islam, mengatakan :

“Tetapi kedudukannya (Hukum Islam) yang sedemikian penting dan menentukan itu ternyata sebagian besar kini merupakan proyeksi teori-teori belaka, sebagai macam fosilisasi yang hampir selesai. Di sana-sini masih didapati bekas-bekasnya, tetapi dalam hampir semua manifestasi praktisnya yang masih ada, hukum Islam mengalami proses irrelevansi secara berangsur-angsur tetapi pasti.”

Tentu, adalah miris bila dalam satu sisi, seperti hukum Islam, mengalami irrelevansi yang secara tidak sadar oleh umatnya telah terjadi sedemikian rupa sehingga hal itu menjadi suatu bom waktu. Misalkan saja tentang runtuhnya kekhilafahan Utsmaniyah yang akhirnya runtuh secara tidak sadar akibat berhentinya umat Islam dalam mengambil momentum dinamika zaman itu sendiri.

Secara gamblang, Cak Nur banyak menilai bahwa bila pengertian dan makna umat adalah suatu kemandirian dan kecukupan, maka kaum muslim telah berhenti menjadi suatu umat karena gagal dalam mengambil kesempatan untuk memodernkan dirinya sendiri. Tidak ada yang salah dengan Islam, tapi sekali lagi, akibat tertutup oleh umatnya sendiri. Maka, Modernisasi merupakan suatu keharusan agar kaum Muslim tidak tergilas oleh ganasnya kemajuan zaman.

***

Kembali kepada peran modernisasi pemikiran Islam bagi negeri kita, semangat keindonesiaan yang timbul, karena berasa dari interaksi yang pernah kita bahas adalah bersifat relatif dan berubah, maka hal itu memerlukan suatu modernisasi dari tubuh umat Islam-Indonesia. Modernisasi itu sendiri, telah muncul sedemikian rupa, memiliki arti penting bagi dinamika kehidupan bernegara kita. Sejak awal kemerdekaan dan berbagai usaha mempertahankan kemerdekaan, banyak sekali beberapa tokoh Islam yang mempertahankan Indonesia terutama antara Islam dan Nasionalisme yang wajar. Contoh saja, fatwa seorang Kiai Hasyim Asy’ari dengan resolusi Jihad-nya yang fenomenal sebagai meletusnya kejadian 10 November 1945. Sebenarnya, dari kalangan santri pun sejak abad ke-19 telah ada suatu pendapat, entah fatwa atau memang sudah keputusan para ulama Indonesia saat itu, untuk bersikap non-kooperatif dengan para penjajah, karena semangat nasionalisme yang bercampur dengan permasalahan teologis dan akidah (selain perilaku zalim penjajah kolonial saat itu). Sehingga, secara tidak sadar membentuk semangat ‘fundamentalisme’ dimana hal itu menimbulkan perlawanan hebat dan kadang amat berlebihan. Terlepas dari positif dan negatifnya, sikap fundamentalisme itu memiliki peran yang penting untuk terbukanya pintu kemerdekaan, bersama dengan kelompok dan golongan lain.

Selain itu, modernisasi pemikiran Islam itu sendiri secara langsung atau tidak langsung membentuk skema politik Republik Indonesia yang masih muda saat itu dengan terbentuknya Partai Masyumi, yang bisa dikatakan sebagai partai percontohan bagi banyak partai Islam. Perlu untuk digarisbawahi bahwa Partai Masyumi secara tidak langsung adalah hasil ‘kaderisasi’ dari H. Agus Salim. Banyaknya ‘murid-murid’ H. Agus Salim seperti Mohammad Natsir dan Mohammad Roem, kelak membentuk partai Islam, yang dikatakan oleh Syafii Maarif, sebagai partai Islam yang moderat dan mencontohkan etika politik yang baik bagi percontohan politik di Indonesia. Bisa dikatakan, meskipun bersifat substantif, tidak terlepas dari jargon ‘Negara Islam’ sehingga kadang membuat keadaan politik menjadi tidak kondusif.

Berbeda saat masa Orde Baru, meski Islam secara simbolis dalam politik dan pergerakan dilarang, Islam bergerak dalam sunyi, bersifat halus dan amat substantif (terkadang bersifat akomodir dengan pemerintah). Ini bisa kita lihat dengan para pemikir dan aktivis Islam saat itu, seperti Gus Dur, Cak Nur, Imaduddin Abdurrahim, Syafii Maarif, juga tidak ketinggalan dengan Mohammad Natsir, meski dengan pendekatan yang sebenarnya amatlah keras di bidang politik terutama setelah Petisi 50. Pergerakan Islam yang substantif di masa Orde Baru, telah menciptakan suasana Islam yang amat ramah dan bersifat kultural, berbeda pada masa sebelumnya yang amat bersifat simbolik seperti gagasan Negara Islam, kontroversi ‘7 kata’ pada sila pertama atau sering disebut Piagam Jakarta, semua itu seakan ‘terlupakan’ dengan Islam yang moderat. Terkadang, untuk beberapa kelompok Islam yang ‘keras’, banyak menuduh kelompok moderat ini sebagai ‘antek pemerintah’ dan ‘mata-mata pemerintah’. Namun, tidak bisa dipungkiri, masa Orde Baru telah membuat pergeseran dari Islam yang bersifat politik-simbolik menjadi Islam yang berorientasi kultural (seperti yang disebut gagasan Gus Dur adalah Pribumisasi Islam). Islam yang substantif terkadang memiliki sudt pandang yang amat berbeda dibanding kelompok lain dengan pendekatan yang bisa dikatakan ‘naqli-minded’ dan ‘fiqh-fashioned’. Kelompok moderat banyak memakai selain al-Qur’an dan Sunnah, juga fakta sejarah peradaban Islam dan penggunaan bahan-bahan modern yang juga diimbangi dengan kitab-kitab klasik para ulama terdahulu. Pendekatan ini, diakui, memiliki nilai yang sangat menarik, sehingga banyak menyegarkan pemikiran orang banyak. Meskipun begitu, terkadang apa yang disimpulkan kelompok moderat ini terkadang banyak yang berlawanan dengan ‘pakem’ yang ada dalam umat Islam itu sendiri, seperti masalah menikah beda agama dan masalah jilbab.

Momentum pergeseran kepada Islam-kultural tersebut diambil dengan baik oleh organisasi NU yang bisa dikatakan kini berada pada dinamikanya yang menarik untuk diperhatikan, terutama sejak reformasi NU dan kembali khittah pada masa kepemimpinan Gus Dur. Pendekatan kultural ini, karena persinggungan nilai substantif, bahan-bahan para ulama klasik dan bahan modern dari Barat, telah banyak berkembang pemuda-pemuda NU yang bersifat progresif. Meskipun begitu, harus diakui, ada yang terlalu jauh melewati batasan yang ada, mengutip kalimat Naquib al-Attas, pendidikan yang didapat malah menyebabkan ‘loss of adab’. Meskipun begitu, perlu pula memberi apresiasi kepada para pemuda NU yang kini telah mendapat momentumnya dalam menyikapi modernisasi secara positif, terlepas dari positif dan negatifnya.

Contoh lain adalah saat perbenturan (atau sengaja dibenturkan) antara Islam dengan Pancasila. Sebenarnya, tak ada berbenturan antara Islam dengan Pancasila. Ini muncul karena ‘kebiri’ pemerintah terhadap partai-partai politik yang mengharuskan berasaskan Pancasila. Yang paling keras menolak adalah Partai Islam saat itu (PPP). Namun, tentu sikap moderat-substantif menyikapi bahwa pancasila bukanlah tujuan, namun instrumen mencapai tujuan Islam itu sendiri, yaitu rahmatan lil ‘alamin. Sehingga pertentangan itu merupakan hal yang tidak berguna sama sekali bila kita tilik secara mendalam.

***

Sebenarnya, banyak penjelasan yang perlu dijelaskan secara panjang lebar, namun terlalu pelik apabila kita terlalu memperdalam berbagai masalah yang ada berkaitan pembangunan nilai Keindonesiaan yang dibangun sebagai interaksi antara Islam dan Budaya Nusantara. Lingkup yang belum dicakup adalah masalah hukum, karena bisa dikatakan amat pelik. Setidaknya, disini penulis ingin menyimpulkan beberapa poin yang harus penulis catat disini.

• Nilai keindonesiaan telah terbentuk sebagai hasil dari interaksi antara Islam dengan Budaya Nusantara di masa lalu, yang berlangsung lama. Hal ini terkristalkan menjadi lima dasar negara kita, yaitu pancasila.

• Interaksi Islam dan Budaya itu sendiri, khususnya Indonesia, berkat pendekatan tasawuf dan melalui pendidikan dan dakwah berdasarkan adat-istiadat dalam masyarakat seperti yang terjadi di Aceh, Sumatera Barat dan Jawa. Interaksi ini mengikis sistem kasta yang ada di Nusantara sebagai akibat pada saat itu diwarnai oleh peradaban hindu dan buddha dengan sistem kehidupan masyarakat Islam berdasarkan egalitarianisme (sebenarnya hal ini bertentangan dengan konsep tasawuf yang cenderung hirarkis, sedangkan dalam syariah atau pendekatan hukum fiqh cenderung menyamakan semua orang).

• Antara Islam dan Budaya, meskipun erat hal itu adalah, dan memang, berbeda. Tentu, Budaya bersifat partikular sedangkan agama bersifat universal, sehingga apabila hal ini tercampur aduk, maka agama sendiri akan mengalami kerancuan. Dan ini akan menghilangkan semangat dinamis dalam pemahaman terhadap Islam yang sesuai dengan semua zaman dan tempat.

• Kebekuan pemikiran Islam (terutama dalam masalah hukum) membuat perkembangan pemikiran Islam, dalam menjawab tantang modernitas, mendapat kebuntuan. Hal itu, pertama, karena percampuradukan antara Islam dan budaya, sehingga menimbulkan kebekuan dalam umat. Kedua, masyarakat Islam mengalami apa yang disebut inferiority complex, sehingga untuk menjawab tantangan modernitas sendiri, bersifat membabi buta dan terkadang bernada apologetik, sehingga cenderung tidak ilmiah dan tak berdasar sama sekali dalam menghadapi kemajuan zaman. Dan ketiga, karena efek ‘tertutupnya pintu ijtihad’ pada abad ke-12, ini menimbulkan suatu kekagetan (shocking effect), terutama setelah runtuhnya kerajaan Utsmaniyah sebagai ‘benteng terakhir’ peradaban Islam pada awal abad ke-20.

• Modernisasi pemikiran Islam, yang dicetuskan secara global terutama melalui Jamaluddin al-Afghani, Muhammad ‘Abduh dan Muhammad Rasyid Ridha, telah banyak mempengaruhi para pemikir Islam di Indonesia, seperti K.H. Ahmad Dahlan, K.H. Hasyim Asy’ari dan H. Agus Salim. Modernisasi ini meliputi modernisasi intelektual dan modernisasi politik. Ini telah mewarnai dengan lahirnya Muhammadiyah, Nahdhatul Ulama, dan berdirinya partai Islam pertama yaitu Partai Masyumi.

• Modernisasi yang terjadi di Indonesia, karena warna yang diberikan di masa lalu dalam pendekatannya yang sufistik, menjadi amat terbuka dan cenderung substantif. Maka, pada masa Orde Baru yang cenderung alergi terhadap pergerakan politik Islam, telah membentuk suatu pemahaman politik Islam yang bersifat kultural. Pendekatan ini dinilai lebih akomodatif ketimbang politik Islam yang cenderung simbolik. Hal ini pun telah membuat antara Islam dan Pancasila yang dulu sering dibenturkan pemerintah menjadi lebih cair dan seakan menyatu. Seakan, Islam merupakan inti atau substansi bagi Pancasila itu sendiri yang sebenarnya hanyalah bersifat instrumental, sebagai alat mencapai tujuan Islam, sebagai rahmatan lil ‘alamin.

• Untuk ukuran kekinian, dimana modernitas kembali dipertanyakan, agama merupakan sumber kembalinya manusia kepada fitrahnya dalam mencari nilai kemanusiaan. Kemanusiaan takkan ada tanpa adanya ajaran agama itu sendiri. Modernisasi, dalam tahapnya kini, telah menimbulkan dehumanisasi dan alienasi kepada nilai materialistik semakin menonjol. Tentu, berbeda dengan jargon ‘Spiritualism yes, Religion no’, agama merupakan perangkat yang harus kembali kita pahami, terutama Islam.

Penulis menyimpulkan bahwa pergumulan dalam modernisasi yang kini berjalann, antara agama dan budaya, yang terkristal dalam nilai keindonesiaan (tertuang dalam Pancasila) merupakan suatu pegangan untuk kembali kepada harkat kemanusiaan kita sebagai masyarakat beragama (lebih khusus lagi masyarakat yang ber-Islam), dalam menjawab tantangan modernitas yang ada. Namun, bila antara agama dan budaya ini saling berinteraksi dengan baik dalam menghadapi modernitas yang dari barat, Insya Allah diharapkan akan terbentuk suatu mentalitas yang terbentuk seperti para Sahabat, Tabi’in, dan para ulama (baik dalam keagamaan maupun ilmu pengetahuan sosial dan alam) yang tidak takut mengambil sumber ilmu dari manapun, dari bejana apapun, seperti kata hadis, ilmu merupakan barang hilang bagi kaum beriman, maka bila dia menemukannya, maka pungutlah.

Sikap terbuka telah terbentuk sejak dahulu, meskipun dalam sejarah, Nusantara tidaklah memiliki kebudayaan Islam (mungkin peradaban Islam) sebesar di Timur Tengah, Andalusia dan India. Disini kita memiliki penilaian positif: meskipun tidak memiliki masa lalu sebesar di India dan Andalusia, Indonesia memiliki masa depan besar menyamai, atau lebih besar dari kedua peradaban Islam tersebut!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s