Sejarah Peradaban dan Kebudayaan Islam: Suatu Pengantar Singkat* (1)

Sejarah merupakan faktor yang sangat penting untuk mengingat, betapa kehidupan ini dipengaruhi oleh masa lalu, dan itu adalah suatu sunnatullah yang tak bisa dihindarkan. Sejarah amat erat hubungannya dengan dimensi perjalanan waktu, juga sebagai penanda berkembangnya kehidupan manusia dan lingkungan sekitarnya ditilik dari ukuran waktu. Dengan begitu, berbicara sejarah maka berbicara perjalanan waktu, yang amat bersifat kronik (kronologis lebih tepatnya).

Dalam berbagai bahasa, sejarah sepadan dengan kata history dalam bahasa Inggris dan histoire dalam bahasa Prancis. Intinya adalah, sejarah selalu saja kental akan penceritaan (story) dan terkadang dalam berbagai sejarah di berbagai tempat, terpengaruh mitos-mitos yang di luar akal sehat. Bila kita menilik pada bahasa kita sendiri, melayu-Indonesia, sebenarnya terserap dari kosakata bahasa Arab, yaitu syajarah, yang artinya adalah pohon. Dalam bahasa arab, sejarah sendiri sering dipadankan dengan kosa kata tarikh, sedangkan untuk perjalanan Rasulullah Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam dengan kosakata sirah.

Mengapa serapan kosakata sejarah dalam bahasa melayu-Indonesia, diserap dari asal kata syajarah yang berarti pohon? Penulis sendiri lebih banyak berpendapat adanya suatu kiasan atau makna tersirat (hikmah) dalam penyerapan kosakata tersebut. Penulis banyak melihat bahwa syajarah ini akan selalu berhubungan antara ‘ushul (akar) dengan furu’ (cabang-cabang). Filosofi syajarah, ‘ushul dan furu’ ini, menandakan bahwa kehidupan manusia, seiring dengan perjalanan waktu, akan selalu berkembang dan tumbuh lebih tinggi, dan lebih banyak lagi cabang-cabang yang akan tumbuh kelak, serta akan menghasilkan buah-buah. Buah ini adalah hasil atau produk perjalanan sejarah itu sendiri. Dengan ini, makna syajarah adalah berkembangnya kebudayaan manusia seiring dengan perkembangan waktu, membentuk kehidupan manusia yang semakin beragam, kompleks dan bahkan sistematis secara tidak sadar.

Perkembangan manusia sehingga terbentuk suatu masyarakat dan terciptanya hubungan antar-masyarakat menciptakan interaksi timbal balik atau interaksi sosial sehingga terjadi saling pengaruh-mempengaruhi antar-sesama manusia. Interaksi ini tidak hanya terbatas pada manusia semata dalam kacamata antroposentris, tetapi juga dengan envirosentris. Dalam kehidupan ini, kita dibentuk oleh tiga komponen: manusia, sejarah dan alam. Interaksi baik dengan manusia dan alam membentuk suatu kebiasaan dan adat istiadat yang menimbulkan nilai-nilai dalam masyarakat. Dari terbentuknya nilai-nilai dalam masyarakat inilah, tercipta nilai budaya. Budaya berasal dari kata budhi, suatu tingkah laku yang baik dan diterima oleh kehidupan masyarakat dalam suatu daerah dan wilayah masyarakat tersebut. Nilai kebudayaan ini bersifat sangatlah lokal, sehingga terkadang kita melihat kehidupan manusia dalam suatu tempat dengan tempat lainnya, seringkali berbeda. Namun, bila kita melihat, sebenarnya sering pula terjadi titik temu dan persamaanantara budaya-budaya masyarakat yang berbeda tersebut. Dengan kata lain, perbedaan itu terkadang bersifat relatif dalam beberapa kasus dan bukti adanya interaksi sosial yang intensif di masa lalu yang membentuk dan mewarnai budaya setempat.

Dalam kebudayaan yang tercipta tersebut, dalam level perkembangan masyarakat, akan tercipta apa yang disebut peradaban. Antara kebudayaan dan peradaban sebenarnya sama saja, karena memang antara budaya dan adab sebenarnya memiliki padanan kata yang hampir sama. Bagi penulis, perbedaan tersebut lebih kepada faktor cakupan wilayah, bila kebudayaan lebih kepada kehidupan yang bersifat lokal, peradaban memiliki cakupan wilayah yang sangat luas, bahkan, dalam berbagai peradaban, terjadi interaksi dari kebudayaan-kebudayaan yang berbeda sama sekali, sehingga bersifat kosmopolit.

Bila kita membicarakan sejarah, seperti yang dibicarakan sebelumnya, mengakar pada kebudayaan. Tanpa adanya kebudayaan, maka tak ada sejarah, timbul anakronisme. Dengan kata lain, dalam suatu alur perjalanan sejarah, terjadi keterputusan sejarah akibat tidak adanya referensi kebudayaan dalam suatu praktek yang berkembang di masyarakat saat itu. Ini timbul, seperti pembentukan negara zionis Israel yang anakronisme menurut Nurcholish Madjid. Dengan adanya fenomena anakronisme ini, maka hilangnya faktor dimensi waktu dan tercerabutnya suatu masyarakat dalam perjalanan perkembangan kebudayaan yang telah berjalan.

Apakah dengan berkembangnya sejarah, maka akan selalu dibarengi dengan kebudayaan meskipun akhirnya tercerabut? Hal ini tentu adalah jawaban yang agak rumit, namun bisa kita melihat pada contoh Turki pasca-keruntuhan Turki Utsmani dan pencerabutan kebudayaan Islam-Turki dengan gagasan sekularisme dan nasionalisme yang digagas oleh Mustafa Kemal. Bagi penulis, ini adalah contoh yang menarik, dimana akhirnya, gagasan tersebut yang berusaha mencerabut budaya yang sudah mengakar pada akhirnya gagal terlaksana karena memang hal tersebut adalah sesuatu yang amat mustahil. Yang adalah saling mempengaruhi dan terciptanya interaksi intens, sehingga tercipta kebudayaan dengan varian yang bercampur dan baru.

Telah kita bahas sebelumnya bahwa ada tiga komponen penting dalam kehidupan ini: manusia, alam dan sejarah. Ada pula dalam pemikiran penulis adanya proses bersifat siklik, yaitu antara sejarah, kebudayaan dan peradaban. Baik kebudayaan maupun peradaban, seringkali terbentuk nilai-nilai kebaikan baik dalam bentuk etika dan moral, hukum, bahkan ritus ibadah keagamaan. Terkadang, dengan semakin berkembangnya kehidupan masyarakat dan peradaban, antar-masyarakat ini seringkali bertikai satu sama lain, bahkan pertumpahan darah demi mendapatkan kehormatan, pengabdian agama, prestise dan kekayaan atas nama kebudayaan sering dijadikan kedok-kedok tersebut. Nilai-nilai budaya yang semakin berbeda ini pada akhirnya menimbulkan friksi dan perpecahan, dan akhirnya penilaian moral kemanusiaan pun semakin samar dan menjadi redup.

Manusia terjebak pada amoralitas atas nama kebudayaan dan peradaban. Timbullah kemunafikan dan akhirnya skeptisisme dan fatalisme dalam kehidupan ini.

***

Dengan pembahasan di atas, setidaknya kita mendapatkan gambaran yang agak jelas mengenai sejarah kebudayaan dan peradaban secara umum, meskipun bersifat mengawang dan mungkin sangat abstrak. Sudah saatnya kita membahas Islam dan perkembangan sejarah peradaban manusia. Bila kita melihat di banyak-banyak buku yang kita baca mengenai sejarah peradaban Islam, maka kita sering melihat kejayaan dan pujian yang menjadi ciri khas bahwa itu berarti pengagungan kepada agama kita sendiri. Bagi penulis, hal itu adalah hal yang sangat lumrah karena jalinan antara agama dengan emosi pemeluknya sangatlah erat, bahkan sering berlebihan, seperti berbentuk ekstremisme dan perbuatan yang bersifat mengganggu lainnya akibat romantika kesejarahan yang berlebihan. Namun, lepas dari itu, marilah kita melihat Islam dan perannya bagi berkembangnya peradaban manusia.

Kita semua selalu mengingat hadits Rasulullah bahwa Rasulullah diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia (budi). Dan pada sisi lain, A’isyah radhiyallahu ‘anha menyampaikan bahwa akhlak Rasulullah adalah refleksi dari al-Qur’an. Penulis akan mengawalinya dari al-Qur’an yang menjadi sumber dan pedomen paling agung bagi kehidupan umat Muslim khususnya, dan umat manusia umumnya. Al-Qur’an, bagi penulis, adalah corong penghubung antara masa lalu, masa kini dan masa depan. Al-Qur’an pula memuat pesan universal baik deri segi vertikal (hubungan Tuhan dengan manusia, Habluminallahu) maupun segi horizontal (hubungan antar sesama manusia dan antara manusia dengan alam semesta, Habluminannas wal ‘alamin). Baik dalam dimensi ruang dan waktu, dan penjelasan lainnya yang menggambarkan kesempurnaan dan kekomprehensifan (syamil wa kamil) al-Qur’an, adalah sesuatu yang berada di luar kemampuan penulis, karena kesempurnaan dan kekomprehensifan itulah yang akhirnya membuat penulis merasa lemah (i’jaz, mu’jizat) dan akhirnya tunduk sebagai bentuk keimanan terhadap wahyu ini, sebagai petunjuk Allah yang sebenarnya.

Al-Qur’an sebagai sumber dan pedoman paling agung, memuat pesan-pesan universal yang bersifat prinsipil. Tentu, dengan nilai keuniversalan ini, setiap perubahan teks dal al-Qur’an, adalah suatu kesalahan fatal bagi manusia yang mencetak mushhaf al-Qur’an. Setiap perubahan, maka akan terjadi kekacauan. Namun hal ini tidak akan terjadi karena banyak para pemelihara al-Qur’an (Hafizh, Hufazh) yang akan selalu menjaga keotentikan pesan Allah tersebut. Nilai keuniversalan ini, tak dinyana secara tekstual adalah bersifat abadi, takkan berubah hingga akhir zaman. Namun, kita harus memahami hal ini tidak hanya dalam sudut pandang tekstual semata, namun juga harus melihatnya secara kontekstual. Kita tidak membicarakan penalaran hermeneutika, namun kita melihat kitab suci dalam hubungannya antara ayat-ayat Qauliyah dengan ayat-ayat Kauniyah. Baik pengertian normatif (das sollen) dan pemahaman empiris (das sein) haruslah saling terhubung satu sama lain. Akibatnya, pembangunan kebudayaan dengan landasan dan semangat Qur’ani adalah sesuai dengan kebutuhan dan keadaan suatu zaman dan tempat.

Melihat konteks turunnya al-Qur’an dan berkembangnya Islam di Jazirah Arab, adalah sesuatu yang menarik dan harus ditarik garis pembeda mana antara prinsip agama Islam yang berprinsip dan bernilai universal dan mana yang memang nilai kebudayaan dari Jazirah Arab tersebut. Dapat kita lihat pula, meskipun kita harus melihat bahwa ada pula antara nilai universal Islam yang melegitimasi kebudayaan Arab, seperti masalah mudharabah, tahkim, poligami, namun legitimasi tersebut haruslah melihat prinsip mendasar nilai Islam dengan prakteknya dengan masa kini yang berbeda dengan masa pada saat di tempat pelegitimiasian, yaitu pada masa Islam berkembang di Arab. Selain itu, legitimasi bahasa sebagai identitas suatu kebudayaan, terutama legitimasi oleh firman Allah bahwa bahasa Arab sebagai bahasa pengantar wahyu, juga harus menjadi pengingat untuk mengupas lebih lanjut kupasan kebudayaan terutama dalam pemahaman bahasa, terutama dalam perkembangan kebudayaan modern dan beradab.

Rasulullah Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bukanlah seorang yang dilahirkan dalam keadaan serba berkecukupan, baik segi materi maupun dalam pendalaman ilmu dasar, seperti kecakapan dalam membaca. Namun, itulah hikmahnya. Secara sunnatullah, seseorang yang tidak mampu dalam suatu hal, akan memiliki kelebihan kemampuan dalam bidang lain. Rasulullah dikenal sebagai orang yang pandai dan tekun memperhatikan keadaan alam, yang dalam psikologi pendidikan disebut kemampuan naturalistik; dan kemampuan mendalami dirinya sendiri, karena beliau memiliki kesukaan, terutama di usianya 40 tahun, untuk menyepi (uzlah), atau kemampuan intra-personal. Kemampuan dalam berbahasanya adalah kelebihan yang mengagumkan, karena beliau dididik pada masa bayinya hingga umur 3 tahun di dalam masyarakat yang memiliki kemampuan bahasa arab murni dan fushha, sehingga beliau, bahkan dalam berbagai karangan sirah seperti Tariq Ramadan dan Husein Haikal, memiliki kemampuan menyampaikan sesuatu dengan singkat namun dengan makna yang begitu luas dan mendalam. Inilah bekal Rasulullah dalam hal keilmuan dasar, meskipun pada sisi lain, beliau tidak mampu membaca dan menulis.

Latar belakangnya pula yang melatih beliau untuk selalu berjuang dan mengasah kemampuannya. Meskipun lahir dari keluarga yang terpandang, Bani Hasyim, dan cucu dan paman yang pemimpin suku, ‘Abdul Muthallib dan Abu Thalib, namun kehidupan beliau dapat dikatakan amat sulit. Ditinggalkan oleh ayahnya pada saat masih dalam kandungan ibunya, ‘Aminah, dan kelak ditinggalkan pula oleh ibunya pada usia 6 tahun, membuat Rasulullah berjuang untuk mempertahankan kehidupannya tanpa kasih sayang dari orang tuanya. Meskipun begitu, kakek, paman dan sanak saudara juga kerabat keluarganya dapat dikatakan amatlah mengasihi Rasulullah. Biar pun begtu, dalam buku Syafi’i Antonio, beliau tidak dapat selamanya bergantung pada kasih sayang sanak keluarganya. Dalam suatu kisah, beliau rela untuk tidak makan karena merasa tidak enak dengan pamannya yang memiliki anak dan sanak keluarga yang berada dalam tanggungannya dalam pemenuhan kebutuhan makanan, sehingga beliau lebih memilih untuk tidak makan mendahului kepentingan saudara-saudaranya. Kemampuan sosial ini juga yang akhirnya melatih beliau untuk banyak bekerja, selain untuk memenuhi kebutuhannya sendiri, juga untuk membantu orang lain, seperti menggembala domba, dan berdagang. Profesi terakhirnya sebagai pedagang, merupakan prestasi terbesar Rasulullah dengan menekankan pada empat prinsip: Shiddiq (dapat dipercaya, tidak munafik dan tidak hipokrit), Amanah (memiliki moral, etika dan perbuatan baik), Fathanah (memiliki kecerdasan dan pemikiran yang jernih dan mendalam), dan Tabligh (transparan tanpa adanya kebohongan dan kepentingan sempit). Karena prinsip-prinsip inilah, kemampuan berdagangnya ini membawa Rasulullah dalam kesuksesan besar, baik saat bertemu istrinya kelak, Khadijah, dan prestise beliau di mata kaum Quraisy, atau umumnya Jazirah Arab pada masa Pra-Islam.

Bila kita mendalami, kapan peradaban Islam bermula, tak dapat dinyana adalah sudah sejak lama, meskipun kata Islam itu sendiri belum muncul dalam benak manusia saat itu. Mungkin saja kata Islam dalam padanan bahasa lain karena para nabi dan rasul terdahulu baik yang diceritakan maupun yang diceritakan sama sekali, diutus dengan bahasa kaumnya masing dalam penyampaiannya. Bagi penulis, untuk mengetahui kapan peradaban Islam dimulai adalah sesuatu yang tak bisa diukur, karena peradaban Islam, dengan kata lain, sudah ada dasarnya sejak penciptaan manusia, yaitu Adam dan Hawa. Dalam penceritaan nabi Adam dan Hawa dalam al-Qur’an, sudah menjadi jelas bahwa makna tersirat dari ayat-ayat penceritaan tersebut adalah dasar peradaban dan titik mula terbangunnya peradaban manusia. Bila kita melihat para Nabi-Nabi semisal Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa, hanya satu dasar peradaban yang tak bisa kita lupakan, bahkan fardhu ‘ain: Tauhid atau Monotheisme Radikal. Dasar Ketuhanan yang Esa adalah suatu kewajiban mutlak dalam setiap pikiran manusia. Kita harus melihat ‘Ibrah-nya dalam pengisahan Ibrahim dalam pemurnian keesaan Tuhan dari segala tuhan-tuhan (dewa-dewa) yang menjadikan hubungan manusia dengan Tuhannya menjadi samar. Dengan hanya mengabdi kepada Tuhan yang Esa sajalah, manusia mendapatkan kebebasannya sebagai manusia seutuhnya, baik potensinya maupun kesuciannya dengan berhubungan dengan Tuhannya yang Sebenarnya.

Baik kita melihat Ibrah Ibrahim, Musa dengan ketegasannya baik dalam tauhid dan hukumnya, Isa dengan etika moral yang halus dan beradab, Muhammad menengahkan antara ajaran-ajaran para Nabi-Nabi tersebut. Kita dapat melihat adanya kenyataan sejarah bahwa ajaran Musa berdasar tauratnya, dinilai terlalu keras dan tekstualis, dan ajaran Isa yang terlalu halus dan longgar, namun semua itu menjadi rentan karena penyelewengan umatnya dari masa ke masa. Rasulullah Muhammad sebagai Nabi dan Rasul terakhir, memiliki misi tidak hanya menegakkan prinsip hukum yang universal, namun juga moral etika (akhlaq) manusia, menjadi manusia seutuhnya, menyeimbangkan perasaan sucinya dan hawa nafsunya.

Konteks masyarakat Arab pra-Islam saat itu, meskipun termasuk masyarakat yang memiliki nilai patriotik, rasa gotong royong yang kuat, rasa kesenian, terutama kesusasteraan yang mengagumkan dan penghormatan kepada pendatang, namun masyarakat Arab saat itu memiliki pola pikir yang menyimpang, yaitu pola pikir (atau secara kasar disebut ideologi) materialisme primitif-tradisional, atau dengan kosakata yang umum dalam ajaran Islam, disebut musyrik (syirk). Kebudayaan Arab Pra-Islam, dengan kata lain, memang sudah ada, bahkan sudah menjadi pusat perdagangan dan tempat transit para pedagang yang akan melanjutkan nantinya ke Suriah dan Mesir (bahkan bisa sampai ke benua Eropa). []

*Tulisan ini adalah materi pendalaman Kader HMI Komisariat Tazkia untuk pemahaman Sejarah dan Peradaban Islam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s