Memahami Hasil KTT Luar Biasa OKI di Jakarta

Pada hari Senin, 7 Maret 2016, baru saja negara-negara Islam menyelesaikan acara yang dinilai oleh sebagian kalangan muslim khususnya, dan penduduk dunia umumnya, Konferensi Tingkat Tinggi Luar Biasa OKI (OIC) di Jakarta. KTT kali ini agak berbeda dibandingkan dengan KTT sebelumnya, karena KTT ini sifatnya luar biasa, karena urusannya mendesak. Apa yang dibahas adalah masalah konflik Palestina dan Israel serta permasalahan Masjid al-Aqsha yang dinilai sudah mulai mengkhawatirkan. Perlu untuk diketahui pula, bahwa pembentukan OKI sendiri berawal dari kemarahan umat Islam atas pembakaran mesjid al-Aqsha oleh seorang penduduk Yahudi yang ekstrim, yang saat itu mengalami kemenangan perang terhadap negara-negara Arab.

Saya kira, perlu untuk diperhatikan karena apa yang telah dicapai dalam KTT LB OKI adalah sebagai bentuk untuk mengembalikan OKI yang kini telah berubah nama dari Organisasi Konferensi Islam menjadi Organisasi Kerjasama Islam. Penulis berpendapat, semangat persatuan dan kesatuan umat Islam sudah semakin mengendur akibat berbagai kepentingan masing-masing negara yang semakin pelik, ditambah lagi konflik berkepanjangan di Timur Tengah pasca-Arab Spring sebagai bentuk demokratisasi yang ternyata menyisakan sedikit negara bertahan. Tengoklah seperti Libya, Suriah, Mesir yang akhirnya memiliki permasalahan yang pelik dalam kehidupan berdemokrasi. Dan ini agak berbeda dengan Tunisia yang agaknya berhasil melewati Arab Spring tersebut.

Di sisi lain, konflik di Timur Tengah sedikit banyak mewarnai kehidupan beragama kita yang sifatnya, ternyata, merupakan warisan politik peradaban Islam di masa lalu, misalkan saja konflik Sunni dan Syi’ah. Belum lagi, di dalam kelompok Sunni sendiri, mengalami konflik internal tersendiri sehingga memecah fokus terhadap satu titik yang harusnya dicapai. Di Indonesia sendiri, suasana politik Islam sudah mulai mengalami konvergensi meskipun di beberapa titik mengalami fragmentasi politik dalam hal menjalankan praktek berpolitik yang pastinya penuh dengan perbedaan pendapat.

Belum lagi kita melihat konflik internal di Palestina sendiri yang terpecah menjadi beberapa kelompok, yang kelompok terbesar yang saling berseberangan seperti Hamas dan Fattah, diikuti dengan beberapa kelompok yang sifatnya kecil. Di luar itu, kita menghadapi cobaan yang berat dari serangan ISIS yang semakin menggerus fokus umat Islam dalam menemukan solusi tepat bagi Palestina dan Israel serta pembebasan al-Aqsha dari kungkungan ekstrimis Yahudi.

Indonesia sendiri sebenarnya sudah banyak memiliki hubungan dengan Palestina, misalkan saja mengenai pengakuan kemerdekaan Indonesia. Di sisi lain, dalam UUD 1945, amanat Konstitusi yang tertuang dalam Pembukaan menyatakan bahwa segala penjajahan di atas di dunia haruslah dihapuskan karena bertentangan kemanusiaan. Bagi Indonesia sendiri, hingga kini, berhubungan dengan Israel merupakan hal yang tabu karena Israel sendiri dinilai sebagai penjajah. Akan tetapi, Indonesia memegang peran penting yang mengharuskan Indonesia ikut berperan aktif menjaga perdamaian dan ketertiban dunia, yang dalam hal ini merupakan salah satu tujuan Negara Indonesia yang tertuang dalam Konstitusi kita.

Setelah berakhirnya KTT LB OKI tersebut, haruslah kita memahami bahwa inti dari hasil konferensi tersebut yang tertuang baik dalam Deklarasi Jakarta dan Deklarasi al-Quds ash-Syarif adalah tiga poin, yaitu arah politik Internasional negara-negara OKI, pembangunan ekonomi dan masalah HAM, yang secara spesifik adalah kebebasan beribadah umat Islam di Masjid suci ketiga bagi umat Islam di Jerussalem tersebut.

Melihat pada keadaan politik internasional negara-negara Islam di dunia, Indonesia dapat dikatakan memiliki peran netral meskipun tetap bahwa Indonesia memiliki misi yang jelas bagi menjaga perdamaian dan ketertiban dunia serta sikap politik internasional yang bebas dan aktif, seperti yang sering dikatakan Hatta dalam beberapa tulisannya. Namun, seperti yang dijelaskan sebelumnya, terpecahnya fokus negara-negara Islam baik internal maupun eksternal negara-negara Islam telah membuat tujuan awal berdirinya OKI menjadi semakin tergeser dan makin terpencil dari pembicaraan penting. Tentu saja titik fokus ini harus kembali dihidupkan kembali sebagai bentuk bahwa OKI memiliki kemauan untuk mengatasi masalah-masalah yang dihadapi oleh umat Islam, terutama masalah Palestina-Israel dan Masjid al-Aqsha. Hal ini membuat, seperti yang dikatakan Ikhwanul Kiram Mashuri dalam satu kolom Resonansi di harian Republika, singkatan OIC hanya akan menjadi plesetan ‘Oh, I See’ sebagai bentuk cuap-cuap belaka dalam bentuk konferensi. Melalui KTT LB ini, negara-negara Islam diingatkan untuk menyisihkan sebagian tenaganya serta melupakan sejenak pertikaian dan perbedaan yang ada untuk membawa Palestina menuju kemerdekaan dan bebasnya Masjid al-Aqsha untuk dipakai dalam beribadah umat Islam.

Dalam bidang ekonomi, seperti yang dikatakan oleh Presiden Republik Indonesia Joko Widodo, menyerukan untuk memboikot produk-produk Israel sebagai bentuk perlawanan terhadap pendudukan ilegal Israel di Tanah Palestina. Hal ini tentu merupakan sinyal positif bahwa Indonesia kembali memiliki komitmen dan mengingat kembali Pembukaan UUD 1945 dalam melawan segala bentuk penjajahan yang ada di muka bumi. Namun, hal ini haruslah diimbangi dengan suatu strategi negara-negara Islam dalam menciptakan ‘perekonomian tanpa Israel’, karena dapat menghambat jalannya ekonomi kita. Di sisi lain, negara-negara sahabat sendiri seperti misalkan Amerika Serikat dan Singapura misalkan, memiliki hubungan erat pula terhadap Israel sehingga perlu untuk lebih mendalami strategi ekonomi seperti apa dalam menciptakan model perekonomian tersebut. Hal ini akan lebih berdampak pula karena kini kita menghadapi MEA dan CAFTA yang tentu saja dibalik potensinya, perlu untuk mematangkan strategi ekonomi kita. Bila strategi dan perencanaan tersebut tepat dan dapat diimplementasikan, tentu Indonesia khususnya yang juga memiliki kepentingan di Asia Tenggara, dan Negara-Negara Islam lainnya, dapat membangun suatu sistem ekonomi yang lebih memadai dan menciptakan sistem ekonomi yang lebih bermanfaat (yang tentu saja perlu pula diimbangi dengan cita-cita Islam berdasarkan Maqashid Syariah).

Dan dalam bidang HAM, yang paling krusial adalah hak untuk hidup, kebebasan dalam beragama dan beribadah, dan hak untuk bertempat tinggal. Pendudukan ilegal tersebut, tidak bisa tidak, telah banyak menimbulkan pelanggaran HAM yang amat berat dan fatal yang mengakibatkan banyaknya nyawa yang hilang sejak tujuh dekade pendudukan Israel tersebut. Cita-cita Zionisme banyak menimbulkan polemik di kalangan Yahudi sendiri dalam mendirikan Negara Yahudi, yang tentu pendirian ini didasarkan pada umat Yahudi yang bersikap fundamentalis dan ekstrimis. Hal ini menimbulkan kekalutan terutama dalam kebebasan beragama utamanya umat Islam dalam beribadah di masjid al-Aqsha. Di sudut yang lain, pendudukan ilegal dan pembangunan pemukiman Yahudi banyak menimbulkan masalah terhadap HAM sehingga hal ini kegundahan kalangan umat Islam di sana, apalagi sejak terjadinya pembakaran Masjid al-Aqsha hingga penggalian secara kasar fondasi masjid al-Aqsha untuk mencari Kuil Sulaiman. Dengan adanya KTT tersebut, negara-negara Islam harus mendesak bahwa perbuata Israel telah banyak menimbulkan kekacauan terutama komitmen negara-negara dan bangsa-bangsa di dunia dalam menghargai Hak Asasi Manusia. Negara-negara Islam diingatkan untuk mendukung Palestina dan pembebasan masjid al-Aqsha sebagai bentuk menegakkan ajaran agama, dengan menegakkan kemanusiaan.

Umat Islam di Indonesia sendiri diharapkan untuk selalu mengawasi sikap politik Internasional negara-negara Islam, khususnya Indonesia sendiri dalam mencapai salah satu tujuan dan cita-citanya dalam Pembukaan UUD 1945, yaitu menghilangkan penjajahan dari muka bumi. Di sisi lain, umat Islam Indonesia pula aktif dalam mendukung perdamaian di Palestina dan pembebasan al-Aqsha dengan bentuk kontribusi yang bermacam-macam.

Kita doakan selalu, semoga Palestina kembali menjadi negara yang merdeka dan al-Aqsha kembali menjadi daerah yang damai kembali!

Allahu A’lam bi ash-Shawwab

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s