Kreativitas: Gerakan dan Gebrakan Pergerakan Mahasiswa Di Masa Kini

Saya kira ini adalah unek-unek di dalam pikiran saya selama ini yang terpendam sekian lama, karena memang akhir-akhir ini saya sebagai mahasiswa jarang bersuara apalagi ikut pergerakan-pergerakan yang dinilai oleh sebagian kalangan ‘masif dan progresif’. Saya lebih memandang bahwa pergerakan mahasiswa adalah sesuatu yang baik, tetapi apa yang dibawanya masih menyisakan banyak celah dan lubang yang perlu sekali kita kritisi dan perbaiki.

Kembali kepada judul di atas, saya ingin bercurhat dengan pergerakan mahasiswa yang kini terasa usang. Apa yang disebut dengan demonstrasi, bagi saya memang dibutuhkan, tapi hal itu masih terasa hambar. Bagi saya sendiri, demonstrasi adalah aksi terbuka yang bisa dipraktekkan apabila setiap gerakan damai tidak lagi bisa dipakai. Maka, demonstrasi (sebut saja demo) dipakai sebagai alternatif paling akhir, senjata pamungkas. Mungkin dalam bidang hukum acara perdata (mungkin juga pidana), sama seperti pengambilan bukti sumpah sebagai jalan terakhir apabila sudah tidak ada bukti yang membuat hakim yakin atau hakim masih belum yakin mengenai penyelesaian satu kasus hingga kepada kesimpulan final berupa putusan. Saya bukan mau meng-qiyaskan demo dengan bukti sumpah, karena tentu hal ini berbeda jauh. tapi menarik bahwa kini, seakan mahasiswa sedang dalam krisis ide dan penggalian dalam menyuarakan pendapatnya terhadap sesuatu yang dinilai sewenang-wenang.

Apa yang dimaksudkan dengan ‘dinilai sewenang-wenang’ tentu hal itu masih dalam konteks ‘saya rasa’ belum tentu kepada kesimpulan potensial hingga kepada aktualitas kesewenang-wenangan. Kembali kepada pergerakan mahasiswa, saya menilai pergerakan mahasiswa kini telah berada di ujung jurang dalam. Usaha mahasiswa untuk menjembatani antara satu tepian dengan tepian lain kini hanya seolah bahwa satu orang menyalahi orang lain karena tidak mau membuat jembatan penghubung, minimal dapat menghubungkan seutas tali, yang tentu resiko ditanggung setiap yang mau menyebrangi, wong cuma seutas tali (tentu yang panjang hingga ke tepi jurang lainnya). sayangnya, hal itu masih dirasa saling menyalahi. Oleh karenanya, perlu untuk memperbaharui pergerakan mahasiswa.

Saya sebagai kader HmI, masih ingat persis pada saat screening LK 1 di mana saya menyatakan bahwa saya tidak suka dengan demo, karena masih banyak jalan untuk berdemo. saya kira saat itu menilai bahwa demo adalah anarkis, dan itu kadang mayoritas. selebihnya adalah aksi damai, juga yang tentu disebut demo dalam arti luas pula. saya sendiri lebih menawarkan pergerakan mahasiswa yang lebih kreatif, seperti menawarkan corong bersuara lewat seni. Saya kira perlu pula untuk membuat mimbar suara berupa tembok besar atau reklame demokrasi yang bebas untuk digambar oleh mahasiswa untuk menyatakan pendapat dan suaranya dalam bentuk grafiti. Ya, grafiti! saya kira itu sangat menarik. Di sisi lain, tentu dengan semakin menjamurnya lagu-lagu beraliran indie, juga menjadi satu anugerah tersendiri untuk menyalurkan suara mahasiswa melalui penciptaan lagu dan kreasi seni musik yang apik dan kritis. Saya selalu mengimpikan ada band-band seperti Efek Rumah Kaca yang selalu bercipta karya dalam konteks kritik sosial, sastrawi, apik, tapi menghujam!

itu adalah suara saya pada masa itu di mana mahasiswa yang memiliki bakat seperti itu dan memiliki nalar kritis, dapat dituangkan dalam bidang seni. tapi saya sadar bahwa semua itu hanya satu titik dari banyak titik yang terhubung menjadi garis, lalu saling berkoneksi satu sama lain menjadi satu pola yang indah. maka, kreatifitas adalah kunci dalam menghadapi kejemuan pergerakan mahasiswa sekarang. musik dan seni bisa untuk dijadikan corong pergerakan. di sisi lain, pergerakan itu dapat pula dimanfaatkan melalui pergerakan bisnis. saya masih ingat dengan pendapat saya yang juga pastinya menjadi suara sahabat-sahabat saya pada masa LK 2 yaitu bagaimana bila pergerakan HmI dilebarkan dengan mendirikan badan usaha HmI, kita namakan BUMI Daya (Badan Usaha Mahasiswa Islam ber-Daya)? Saya menyadari karena dalam konteks pemikiran Hatta yang mengatakan bahwa demokrasi tidak hanya berbicara politik, tapi juga ekonomi; serta pemikiran dari Professor Jimly Asshiddiqie yang menyatakan bahwa kehidupan dalam bernegara tidak lagi dibatasi hanya masalah berkaitan dengan pemerintah dalam sudut pandang pemikiran Locke mengenai trias politica klasik, tapi kini dipandang berubahnya pandangan tersebut menjadi Trias Politica Modern, yaitu Negara (Pemerintah), Dunia Usaha, dan Masyarakat Madani. Mengapa HmI tidak mengambil peran di dunia usaha, apalagi di era globalisasi ekonomi yang cenderung kapitalistik, dunia usaha menjadi senjata yang bahkan oleh Gilpin dalam satu bukunya menyatakan ‘proses penghancuran kreatif’ yang ampuh?

Kreatifitas kini menjadi satu senjata yang diperlukan untuk memperbaharui pergerakan mahasiswa di masa kontemporer kini. kini banyak mahasiswa-mahasiswa yang sudah mulai meninggalkan organisasi mahasiswa yang dinilai hanya mendasarkan pada demo semata. kini keahlian dan pelatihan adalah kunci untuk mencetak mahasiswa yang profesional, tidak hanya masalah intelektualitas, tapi juga kemampuan dalam menghadapi dunia kerja. Sayangnya, hal ini tidak ditangkap oleh sebagian organisasi mahasiswa. Pergerakan mahasiwa perlu untuk diarahkan kesa, kepada masalah profesionalitas. Pelatihan menurut saya juga adalah hal yang baik untuk diperhatikan. Semboyan mahasiswa yang Islami, Intelektual dan Profesional adalah suatu rumusan yang tidak kosong. dan ini adalah sangat dibutuhkan. Dunia Usaha kini menjadi tantangan dan peluang bagi pergerakan mahasiswa yang kreatif.

Oleh karenanya, kreatifitas adalah senjata ampuh untuk pergerakan, juag dinilai sebagai gebrakan dalam mencairkan kebekuan pergerakan mahasiswa yang kini terasa dingin dan mulai dilupakan mahasiswa lain. Saya kira ini adalah unek-unek saya. Saya bukan cenderung pada dunia usaha, karena saya sendiri punya jalan sendiri, yaitu bergerak di bidang keilmuan dan masalah dunia hukum. Sehingga, pergerakan yang kreatif adalah merespon setiap minat dari mahasiswa yang kini sedang digandrungi dan dibutuhkan. Kini masalah keagamaan dan kebutuhan akan pelatihan-pelatihan untuk mendapatkan kemampuan kerja secara profesional diperlukan disamping membuka pada minat pada pengembangan dunia usaha mahasiswa yang kini perlu untuk difokuskan. Saya kira inilah unek-unek saya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s