Relevankah Libertarianisme di Indonesia? (1)

bbfb4faa18ee2951b02b656fb34be1d7_xl

Pertanyaan yang terngiang di dalam benak kita semua adalah mengapa sosialisme gagal tumbuh di Indonesia dan di era global saat ini? Ideologi sosialisme yang berkembang di Indonesia pernah berjaya pada dekade 1920-an hingga pertengahan dekade 1960-an. Bahkan, Hatta dalam beberapa tulisannya mengatakan bahwa berdirinya demokrasi Indonesia didasarkan pada tiga hal: Islam, Desa, dan Sosialisme Barat. Dengan kata lain, sosialisme yang datang dan berkembang dari Barat menjadi dasar penting bagi berdirinya Indonesia dan demokrasi (kedaulatan rakyat) di Indonesia. Namun, mengapa sosialisme gagal berkembang?

Inspirasi para aktivis pergerakan baik pada masa Sarekat Islam Merah hingga keruntuhan Partai Komunis Indonesia pada 1965-1966, lebih banyak dikonsentrasikan kepada pemikiran Lenin dan (selanjutnya) Stalin di Rusia serta Mao Zedong di China. Sosialisme merupakan pandangan ideologi ekonomi yang dibedakan dari komunisme sebagai gerakan dan Marxisme sebagai pandangan politik yang berlandaskan pada filsafat materialisme-historis yang dikembangkan (dan dipreteli habis-habisan) dari filsafat dialektika-ideologis Hegel. Jika kita menilik dari apa yang berkembang dalam pemikiran Mazhab Marxian yang diikuti oleh Lenin, Stalin dan Mao, dapat dikatakan bahwa pandangan Marx telah banyak dipreteli seperti Marx mempreteli filsafat dialektika Hegel.

Menarik untuk membahas kritik pemikiran dari Baqir ash-Shadr, seorang ulama Syi’ah, di mana beliau mengatakan bahwa pemikiran Marx yang dikembangkan oleh para pengikutnya telah berlaku berlebihan dan tidak pada tempatnya meletakkan filsafat materialisme historis terhadap berbagai permasalahan yang bukan masalahnya, seperti rekayasa dipaksakan dalam memandang alam ini sebagai saling beradu dan berbagai argumen yang dipaksakan demi mencapai tujuan politik dalam Marxisme: mencapai masyarakat tanpa kelas dan kepemilikan bagi semua masyarakat. Akibat hal tersebut, terjadi kelumpuhan ilmu pengetahuan yang dicampuraduki oleh kepentingan politik dan pembodohan massal masyarakat demi mencapai cita-cita masyarakat tanpa kelas.

Perkembangan Marxisme, terutama kita fokuskan pada sosialisme sebagai pandangan ekonomi, telah menuju kehancurannya akibat dari pengikutnya sendiri, dan bahkan para pemikir mengatakan bahwa Marx sendiri telah salah dalam mengambil kesimpulan dengan semena-mena menjadikan jawaban akhirnya terhadap masyarakat tanpa kelas tanpa melihat konsekuensinya ke depan.

Di Indonesia sendiri, perkembangan Marxisme telah banya terdokumentasi, bahkan seorang Pendiri Bangsa kita, Soekarno, menulis beberapa tulisan yang dikompilasikan menjadi ‘Marxisme, Islamisme, dan Nasionalisme’. Mengapa Marxisme? Karena saat itu keadaan masyarakat (terutama Pribumi) menjadi masyarakat pinggiran yang dinilai Soekarno sebagai masyarakat proletar yang tertindas oleh bangsa Penjajah di mana selama ini (dalam periode penjajahan dalam Tanah Paksa, Kebijakan Liberal, hingga Politik Etis) menempatkan masyarakat Indonesia pribumi sebagai kelas pinggiran. Ibaratkan dalam pemikiran Hatta, Pribumi sebagai mayoritas menjadi masyarakat lapis bawah, yang ditekan oleh kekuatan ekonomi dari kalangan atas (masyarakat kulit putih kolonial) dan kalangan tengah (masyarakat Tionghoa). Dengan adanya klasifikasi tersebut, tak ayal keadaan sosial kemasyarakatan, tidak hanya ekonomi, pun pendidikan, berdasarkan stratifikasi sosial yang sangat diskriminatif, baik agama, ras hingga kedudukan sosial. Hal ini menjadi ketertindasan sendiri bagi masyarakat Indonesia khususnya pribumi.

Kenyataannya adalah meskipun kita merdeka, namun secara ekonomi dan kebebasan masyarakat yang katanya didasarkan pada masyarakat demokratis, ternyata masih jauh dari harapan. Meskipun perkembangan ekonomi pada awal periode mencapai suatu capaian memuaskan, namun hal itu tidak berlangsung lama akibat perang mempertahankan kemerdekaan dan naik turunnya tensi politik hingga berakhirnya pemerintahan Orde Lama. Sosialisme telah menjadi satu momok di mana pandangan yang seharusnya mengangkat derajat dan martabat masyarakat Indonesia, namun ternyata menjadi terpuruk akibat berbagai kesalahan yang diambil oleh Pemerintah sehingga gampang untuk disalahgunakan. Mengapa penyalahgunaan itu terjadi bahkan hingga akhir Orde Baru yang begitu lama berkuasa? Hal ini akibat tidak adanya tempat KEBEBASAN INDIVIDU di dalam masyarakat Indonesia. Saya harus menunjukkan pada Konstitusi kita, UUD 1945 sebelum Perubahan terjadi pada masa 1999-2002, yang minim sekali penjaminan Hak Dasar Manusia (atau umum disebut Hak Asasi Manusia).

Kesalahan dalam membaca konsekuensi jangka panjang dari Sosialisme tersebut telah menemukan jalan yang begitu sulit bagi Indonesia mencapai satu kemajuan yang pasti dan nyata. Apa yang disebut sebagai kebersamaan seringkali menjadi satu komoditas politik untuk mencapai kepentingan kelompok tertentu yang menguntungkan hanya segelintir orang. Sosialisme, selain mengikis kesejahteraan setiap individu dalam masyarakat, juga telah mengikis akal sehat individu dalam masyarakat itu sendiri menjadi seorang yang gampang dikendalikan dan bahkan tak punya inisiatif dan tanggung jawab. Sederhananya: Sosialisme mencerabut kebebasan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s