Desa, Globalisasi dan Perang Pangan

0krebszo7e

(Tulisan ini merupakan intisari pemahaman yang saya dapat dalam acara diskusi bersama Bang Sofyan Sjaf, senior kami di HMI Cabang Bogor)

Pada tanggal 13 November 2016, HMI Cabang Bogor mengadakan agenda diskusi mengenai arah pergerakan HMI Cabang Bogor selanjutnya dalam menghadapi dinamika politik saat ini yang begitu panas. Hal ini merespon kejadian yang telah berlarut selama minggu-minggu akibat ucapan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang menimbulkan panas politik dan sosial yang tidak biasa. Diskusi ini menjadi penting untuk memahami posisi HMI yang juga mengalami berbagai cobaan baik internal maupun eksternal.

Untuk sesi pertama, diskusi diisi oleh senior kami di HMI Cabang Bogor, Bang Sofyan Sjaf. Dalam diskusi di mana Bang Sofyan sebagai pengisi materi diskusi tersebut, beliau lebih banyak menekankan pada perubahan sosial yang kini sedang terjadi di Indonesia khususnya, dan dunia pada umumnya. Menurut bang Sofyan, perubahan yang terjadi saat ini harus kita lihat dalam beberapa puluh tahun yang lalu. Dalam sejarah berdirinya NKRI, Indonesia dengan dasar negaranya Pancasila dipengaruhi oleh tiga unsur: Islam, nilai-nilai kemasyarakatan di desa, dan pemikiran sosialisme Barat.

Seiring perkembangan zaman, Indonesia menghadapi apa yang disebut masa demokrasi liberatif yang kini sedang kita hadapi dan geluti. Pengalaman demokrasi liberatif pada dasarnya adalah pengulangan kembali sejarah dengan tentu harus belajar dari sejarah masa lalu pada masa demokrasi liberal 1950-1959. Bang Sofyan mengatakan bahwa kemungkinan demokratisasi adalah hal yang memiliki nilai positif dan negatif.

Dari segi suksesi kepemimpinan, maka demokrasi adalah nilai positif karena memberikan kesempatan setiap warga negara untuk menjadi seorang pemimpin dan tidka berdasarkan keturunan dan trah dari penguasa sebelumnya. Hal ini pun membebaskan masyarakat untuk berkesempatan mengemukakan pendapat, berserikat dan lain sebagainya sesuai dengan Piagam HAM PBB dalam hal Hak-Hak Politik.

Namun, ekses negatif dari demokrasi adalah timbulnya apa yang disebut sebagai investasi politik. Demokrasi tidak bisa lepas dari keterbukaan dan kebebasan yang mengakibatkan berbagai kelompok pun menjadi lebih terbuka dalam mengemukakan kepentingannya, baik itu kepentingan politik kekuasaan, ekonomi-bisnis, dan lain sebagainya.

Demokrasi politik yang kini menjadi fokus dalam kehidupan kita saat ini menjadikan segala sesuatunya mahal untuk ‘terangkat’ menjadi pejabat Negara, seperti menjadi anggota dewan baik daerah maupun pusat, dan juga menjadi presiden. Investasi untuk mendapatkan suara maupun kursi akan banyak dapat mencapai berpuluh juta. Dalam suatu pelajaran yang saya petik dalam suatu forum, untuk menjadi seorang tokoh yang dapat mencuri hati pemilih secara alamiah, maka proses itu harus dari 10 hingga 15 tahun sebelum dia mencalonkan. Dengan ongkos politik yang mahal dan pencapaian yang tentunya tidak mudah (bila pencapaian itu secara alamiah), maka tidak jarang menekan mental sang politisi tersebut yang semakin berlipat ganda.

Ongkos politik yang mahal cenderung dimanfaatkan oleh pihak tertentu untuk bertransaksi politik berupa ‘investasi politik’ seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Tidak hanya partai politik, tetapi juga kepentingan lain seperti pengusaha-pengusaha baik untuk mendapatkan sumber daya yang murah bagi bisnisnya maupun melanggengkan perusahaannya agar tetap lancar menjalankan usahanya.

Mari kita tarik dalam perubahan sosial yang kini mewarnai kehidupan kita semua. Kita lihat dalam alam globalisasi kini. Menarik untuk melihat buku Benturan Peradaban karya Samuel Huntington yang dijelaskan oleh Bang Sofyan, Intinya adalah akan terjadi suatu perang pengaruh antara Westernisme (diwakili oleh Eropa dan Amerika Serikat), Konfusianisme (diwakili oleh Tiongkok) dan Arabisme (diwakili oleh Timur Tengah). Dalam perkembangan selanjutnya, pergulatan global dikonsentrasikan antara kepentingan Barat (Amerika dan Eropa) dan kepentingan Tiongkok. Pertarungan ini dikerucutkan menjadi pertarungan antara Neoliberalisme ala Amerika Serikat dan Sosialisme ala Tiongkok.

Bila kita hubungkan dengan pergulatan global tingkat tinggi tersebut, maka hal ini mempengaruhi, bahkan menjadi bagian, dari pergulatan politik nasional Indonesia. Apa itu? Dengan mahalnya ongkos politik untuk menjadi wakil rakyat atau Presiden, tentunya para calon pejabat Negara ini akan mencari dana untuk memodali kampanye dan kelangsungan promosinya agar suaranya terangkat. Belum lagi ongkos politik itu ditambah dengan praktek politik uang yang tentunya akan semakin mahal. Hal ini akan banyak dipengaruhi dengan pertarungan global antara dua kubu ini untuk menyusup ke dalam kancah kompetisi politik tersebut.

Investasi politik untuk modal politik tersebut, pada akhirnya menimbulkan ketergantungan para politikus yang berakibat pada independensinya sebagai politisi yang membela kepentingan rakyat dan goyahnya idealismenya menjadi tergadai oleh kepentingan-kepentingan kelompok tertentu. Belum lagi, untuk balik modal (meski kata investasi bukan berarti secara cepat modal tersebut harus dikembalikan) perlu adanya asupan dana untuk menutup segala apa yang telah diberikan oleh kelompok tertentu berupa hak-hak istimewa dalam berbisnis. Hal ini berbahaya bagi kedaulatan kita sebagai bangsa yang selama ini merdeka, namun ternyata tergerogoti baik kemerdekaan politiknya maupun ekonominya.

Dengan tergadainya idealisme sang politisi, berakibat pada terabaikannya kepentingan rakyat khususnya kalangan petani. Kita menghadapi isu serius dengan apa yang disebut dengan perang pangan. Bila kalangan politisi hanya mementingkan semata kepentingannya untuk mencari modal untuk mengembalikan modal dari kelompok tertentu dan mengabaikan kepentingan petani, maka akan berakibat fatal bagi ketahanan dan kedaulatan pangan kita. Kita tahu bahwa petani di Indonesia sebagian besar merupakan kelompok paling lemah bahkan paling terpinggirkan selain nelayan. Dengan terabaikannya para petani ini, maka para petani rentan terhadap berbagai kepentingan kelompok di luar itu. Tak jarang petani harus head-to-head dengan pengusaha yang seringkali berselingkuh dengan negara untuk mendapatkan lahan usahanya.

Petani, dengan kata lain, semakin keok di negeri sendiri yang seharusnya mereka diberdayakan dan diberikan pendidikan serta bimbingan agar mereka dapat bersaing baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Inti globalisasi adalah kompetisi dan produk yang bersaing. Kerja dan akses terhadap berbagai kebutuhan untuk kerja mudah dan terjangkau sehingga petani dapat menjalankan pekerjaannya dan menambah produktivitas serta menambah skala ekonomi produk pertanian. Tentu ini akan menjadi persaingan menarik antara Indonesia, Amerika, Eropa dan Tiongkok apabila strategi pertanian ini berhasil dan menemukan formulasi dan implementasi yang pas.

Meski begitu, negara saja tidak cukup. Kemauan politik tentu penting, tetapi harus diingat bahwa kini kita menghadapi zaman yang semakin modern. Kita tidak lagi terfokus pada trias politica yang bersifat kaku dan terlalu inward-looking, tapi juga bersifat outward-looking. Kita tidak lagi berfokus pada masalah ketatanegaraan dalam ranah hukum (eksekutif-legislatif-yudikatif), namun meluas menjadi tiga simpul besar, yaitu Negara-Pasar-Masyarakat Madani. Akan terlalu luas bila kita membahas pasar karena terlalu rumit, namun perlu untuk kita renungi bahwa strategi yang paling potensial adalah terjun ke masyarakat (Masyarakat Madani).

Dalam masyarakat kita, mayoritas (meski saya melihat dalam data BPS tahun 2015 51 persen penduduk Indonesia berada di kota) penduduk Indonesia adalah di Desa. Dalam data BPS tahun 2014-2015, jumlah penduduk miskin di desa mencapai 17,94 juta jiwa (14,21 persen). Meskipun jumlah kemiskinan turun dari tahun ke tahun, namun tingkat kemiskinan ini masih lebih tinggi dari jumlah kemiskinan di kota yang mencapai 8,29 juta jiwa (8,29 persen). Padahal, dalam perserapan tenaga kerja, dilihat dari tingkat pengangguran tahun 2015, tingkat pengangguran di perkotaan begitu tinggi (7,02 persen) dibanding di desa (4,32 persen). Tetapi hal itu dapat dijelaskan bahwa dengan begitu sempitnya lahan pekerjaan di desa, maka sebagian penduduk dalam masa usia produktif dalam angkatan kerja berpindah ke kota, sehingga tingkat pengangguran menjadi sangat tinggi dibandingkan di desa. Sedangkan di desa, meski tingkat pengangguran di desa sedikit, hal itu tentu karena selain perpindahan penduduk produktif, namun karena masalah kemiskinan di desa serta tidak memadainya tingkat pendapatan di sana, maka penduduk desa tersebut melakukan perpindahan ke kota untuk ‘bertaruh nasib’. Tentu, hal ini juga akan berimbas pada semakin merosotonya tingkat ekonomi desa meski tingkat pengangguran di sana sedikit.

Melihat keadaan tersebut, tentu saja harus ada strategi untuk menguatkan fondasi masyarakat di desa. Apalagi isu perang pangan dalam kancah globalisasi semakin merajalela karena terabaikannya kepentingan masyarakat petani oleh ulah para politikus yang mengejar kepentingan kelompok tertentu sebagai imbas dari ketergantungan ‘investasi politik’.

Maka dari itu, Bang Sofyan dalam mengakhiri diskusi tersebut, khususnya bagi para Kader HMI Cabang Bogor, mengatakan bahwa sudah saatnya HMI membagi kerja. Kerja yang menjadi fokus, kini tidak hanya politik semata di tingkat elit, tetapi kembali ke desa, kembali ke masyarakat desa, dan bangun desa dan masyarakatnya. Bagi Bang Sofyan, fondasi Indonesia terutama di bidang ekonomi, seperti yang dikatakan oleh Hatta sebelumnya, adalah berada di desa. Sebagian masyarakat petani dan sumber pangan berada di desa, dan sebagian masyarakat Islam di Indonesia ada di desa. Indonesia sudah mempunya Undang-Undang No. 6 Tahun 2014 tentang Desa. Maka, kader HMI harus berbuat konkret di masyarakat, bangun desa, bangun masyarakatnya, bangun ekonomi akar rumput, karena itulah akar Indonesia kita. Akar yang kuat dan mampu menyerap nutrisi tanah dengan baik, maka menjadikan pohon itu tumbuh dan bertahan dengan baik. Hal ini akan menjadi modal Indonesia siap menghadapi globalisasi, menghadapi perang pangan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s