Memahami Kembali Substansi Sosialisme Indonesia (2)

soekarnohatta

Perbedaan pandangan apakah kebebasan manusia itu dilepaskan kepada individu masing-masing atau diserahkan kepada Negara untuk mengurus sebagian yang tidak dapat dibangun oleh individu semata menjadi perdebatan hangat baik di Eropa Daratan maupun di Amerika. Tentang pemetaan konflik yang berkembang awalnya di Eropa Daratan memicu konflik pemikiran antar Anglo Saxon (baik Inggris maupun Amerika) maupun Eropa Daratan mengenai kebebasan dan kesatuan masyarakat yang diatur oleh Negara. Perdebatan itu seperti yang dikatakan sebelumnya telah memicu kecacatan revolusi Prancis yang pada dasarnya memiliki tradisi civil law berdasarkan kewenangan raja (pemerintah) yang sentralistik dengan tradisi common law yang berkembang pada bangsa Anglo Saxon yang telah terbiasa pada individualisme sehingga mentahnya revolusi mengakibatkan perkembangan liberalisme yang setengah-setengah.

Perkembangan sosialisme ini sebenarnya dapat pula untuk dilihat dari berkembangnya ilmu sosiologi di Jerman oleh Auguste Comte pada abad ke-19. Perkembangan sosiologi yang mempelajari hubungan antar manusia di dalam masyarakat serta mempelajari masyarakat itu sendiri, berkembang pesat di Jerman khususnya dan Eropa Daratan pada umumnya. Meskipun Herbert Spencer merupakan pengembang ilmu sosiologi berpengaruh dari Inggris, namun pemikiran Sosiologi Spencer tidak berkembang pesat di Inggris. Ini dapat dilihat bahwa perkembangan masyarakat berdasarkan Common Law maupun karakteristik masyarakat (serta Individu) di Inggris lebih homogen serta lebih bersifat individualistik dibanding tempat lainnya. Hal ini dimaklumi bahwa perkembangan liberalisme klasik yang didasarkan pada kebebasan individu lahir di Inggris, sehingga keadaan antara Inggris dengan Eropa Daratan tentu memiliki perbedaan signifikan terutama dasar pemikiran berdasarkan kebebasan individu atau kehendak kolektif.

Kehendak kolektif ini merupakan perkembangan lanjutan dari timbulnya revolusi Prancis 1789 yang dinilai cacat sehingga menimbulkan dua kubu yang saling berseberangan, yaitu kebebasan pada satu pihak, persamaan dan persaudaraan pada pihak lain. Perkembangan Eropa Daratan yang lebih sentralistik dan berdasarkan kolektivisme memuncak pada pemikiran Karl Marx yang mengritik pemikiran Adam Smith yang mengarah kepada pemikiran Liberalisme Klasik sebagai satu sistem yang mengeksploitasi tenaga kerja dan membuat kesenjangan kelas yang semakin lebar. Di dasarkan pada ‘asumsi’ pemikiran berdasarkan teori surplus-value Marx mengungkapkan eksploitasi kaum borjuis yang mendapatkan keuntungan lebih dengan mempekerjakan buruh dengan ‘mengotak-atik’ baik itu upah yang rendah atau jam kerja yang diperpanjang. Keuntungan yang didapatkan dari surplus baik waktu maupun penjualan menjadikan buruh sebagai sapi perah si kaum borjuis dalam mendapatkan keuntungan yang banyak, sedangkan kaum buruh bekerja tanpa lelah tanpa mendapatkan hasil yang adil dari yang ia buat dan ia dapat dari pekerjaannya.

Kritik Marx pada dasarnya diarahkan kepada teori ekonomi yang lebih melihat bahwa kepemilikan individu sebagai dasar perekonomian adalah sesuatu yang keliru dan terlalu memberikan kebebasan kepada individu yang cenderung mengeksploitasi demi mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya. Hal ini dapat dilihat dari penjajahan di berbagai wilayah di dunia yang didasarkan pada persaingan bebas antar individu yang membuahkan eksploitasi yang berkepanjangan dan mematikan manusia dari kebebasannya, terutama kemauan kolektifnya. Kaum terjajah (proletar) dijajah oleh kaum penjajah (borjuis) untuk mendapatkan komoditas perdagangan yang dibutuhkan dunia sehingga bertujuan mendapatkan keuntungan dari perdagangan komoditas dunia tersebut. Namun, proletar sendiri hanya diberi upah yang begitu sedikit dari pekerjaannya yang begitu berat sehingga menimbulkan ketidakadilan. Hal ini merupakan sedikit latar belakang yang membuahkan suatu teori eksploitasi kaum borjuis terhadap kaum proletar.

Pemikiran Marx (Marxisme) ini didasarkan pada pengembangan filsafat Hegelian, berdasarkan dialektika idealistik. Namun, Marx memandangnya terlalu mengawang sehingga perlu untuk dikonkretisasikan dengan keadaan yang riil, yaitu suatu pemikiran yang bersifat materi, tidak berdasar pada ide semata. Dari perbenturan berdasarkan materi itu, yaitu dari sudut pandang ekonomi, menghasilkan kehidupan manusia yang bersifat dinamis dan berkembang lebih baik. Karena perbenturan ekonomi, kehidupan manusia menjadi lebih baik. Itulah inti pemikiran Marx. Dengan mengasumsikan keadaan saat itu dengan adanya head-to-head antara kaum borjuis (kaum pemodal dan pemilik aset individu) dan kaum proletar (kaum buruh) dalam masa-masa perkembangan industri, maka perlu untuk menggulingkan ‘otoritarianisme’ kaum borjuis berdasarkan sistem kapitalisme yang merugikan buruh, dengan suatu sistem yang disebut sebagai komunisme, yaitu gerakan penyatuan kaum buruh (disertai kaum-kaum lain yang senasib dengan si kaum buruh) untuk menggulingkan kekuasaan si kaum borjuis dengan suatu sistem yang lebih adil bagi mereka. Kepemimpinan ala kaum borjuis berdasarkan kapitalisme yang mengeksploitasi digantikan oleh suatu sistem komunisme yang menjamin kehendak kolektif atau kebersamaan. Maka dari itu, kepemilikan pribadi dalam alat produksi harus direbut dan dijadikan sebagai kepemilikan bersama, yang dikelola oleh Negara sebagai representasi dari kehendak bersama, yang selanjutnya oleh kaum komunis disebut sebagai ‘diktator proletariat’.

Meskipun sosialisme dan komunisme berbeda satu sama lain, tetapi mereka tetap sama didasarkan pada kolektivisme dan dikendalikan oleh negara sebagai representasi kolektif kaum buruh, dengan apa yang disebut pemerintahan ‘diktator proletariat’. Diktator proletariat inilah yang berperan utama dalam mengalihkan alat-alat (dan faktor-faktor) produksi individu menjadi kepemilikan bersama (sosial). Oleh karena itu, perlu untuk dikritisi pula peralihan kepemilikan individu ini hanya meliputi alat produksi atau seluruh kepemilikan individu. Ini menjadi satu pertanyaan perlu untuk dijawab dan dikritisi.

Ekses negatif Marxisme mengenai pembentukan masyarakat komunisme ini tentu sudah kita ketahui bersama, terutama kritik libertarianisme terhadap komunisme. Namun, dibandingkan komunisme, pemikiran sosialisme yang dinilai moderat (yang dinilai banyak pihak jalan masuk menuju komunisme tapi tidak terlalu jauh hingga ‘ke dalam’) berkembang di berbagai negara seperti Denmark, Swedia, Norwegia dan Finlandia. Sosialisme itu sendiri kini berkembang lebih moderat mendekati liberalisme yang notabene mengutamakan kebebasan individu.

Hal ini menginspirasi banyak tokoh pergerakan kemerdekaan di Indonesia, terutama Soekarno, Sutan Syahrir, dan Mohammad Hatta. Teutama Soekarno, beliau menyadari bahwa Marxisme yang berkembang di Eropa sangat berbeda dengan alamnya di Indonesia. Bila perbenturan dua kelompok di Eropa karena lingkungan ekonomi industri berdasarkan teknologi mesin, maka Indonesia masih dalam tahap agrikultur yang banyak berkonflik antara kaum tani dan buruh terhadap penjajah dalam masalah tanah dan upah tenaga kerja.  Sehingga, alam pemikiran Marxisme semata adalah pincang di Indonesia. Maka, Soekarno memperkenalkan tiga pokok pikirannya bagi Indonesia, yaitu Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme, yang kelak dipraktekkan pada masa demokrasi terpimpin namun gagal.

Hatta sendiri sejak awal sudah menolak pemikiran Marx yang secara ekstrim mengemukakan negara menguasai seluruh alat produksi. Baginya, kepemilikan individu adalah suatu keniscayaan dan menjadi dasar bagi manusia dalam mempertahankan hidup dan mengembangkan kehidupannya lebih baik. Hatta lebih berpikir realistis mengenai cabang produksi yang penting dan dibutuhkan rakyat banyak, serta bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara untuk dimanfaatkan bagi kemakmuran dan kesejahteraan rakyat.

Dari permulaaan pokok pikiran dua tokoh Dwi-Tunggal inilah, terjadi perbedaan pandangan mengenai apa itu sosialisme ala Indonesia. Di sisi lain, berkembangnya sosialisme harus dipahami dari perjalanan sejarah Nusantara di masa lalu yang berliku dan antara Islam dan Sosialisme Barat-lah yang membentuk negara ini menjadi bersatu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s